Tuesday, 1 October 2013

Always Love You Part 10

Yeaaaayyyy.... i'm back yuhu..... mana suaranya!!!!1 *krik...kriiikkk...* -___-
okelah gak apa-apa. 
dikarenakan saya sdh di kejar2 oleh hantu praktikum dan tugas jadi maafkan sy klo lamaaaa sekali update. rasanya sy ingin cium satu2 asdosnya karena berhasil membuat sy tepar di kostan. 
okelah sy akhiri dulu curhatan gk bermutu sy ini. Selamat menikmati cerita sy yg kacau binti aneh ini hahaha :D




Hari ini aku berencana membereskan apartementku. Sudah beberapa bulan ini aku sibuk dan menelantarkan apartementku. Untungnya sekarang sudah libur kuliah jadi sebelum aku meninggalkan apartemenku dan pulang ke desa, sebaiknya aku membersihkannya dulu.
Andreas sudah pergi bekerja pagi tadi. Ia sempat sulit di bangunkan, aku merasa seperti membangunkan seorang anak kecil karena ia terus merajuk. Setelah menagih morning kiss akhirnya ia mau memindahkan bokongnya menuju ke kamar mandi.
Aku sempat mencium wangi parfumnya yang membuatku, well, tergila-gila ketika ia mencium ku di depan pintu. Tampilannya begitu mempesona dengan setelan jas yang sepertinya di buat khusus untuknya, karena begitu pas membungkus tubuh sexy-nya. Rambutnya yang disisir rapi menambah kesan bahwa ia orang terpandang. Tuhan, benarkah ia kekasihku? Mengapa aku merasa begitu jauh.
Suara deringan telpon membuyarkan lamunanku. Aku melihat ID sang penelpon. Paula. Anak itu. Mau apa dia pagi-pagi begini?
“Halo?”
“Halo, Claura. Morning honey.” Ucapnya dengan nada ceria.
“Morning Paula.” Ucapku tak bersemangat.
“Kau punya rencana apa hari ini?”
“Well, aku berencana untuk membersihkan apartementku yang sekarnag penuh debu.”
“Uuuuhhhh… sepertinya membosankan. Bagaimana kalau kita belanja?”
“Aku sedang tidak punya uang.” Jawabku santai.
Paula mendengus. “Tidak seru.” Cibirnya.
“Tidak biasanya kau menelpon ku sepagi ini, Paula.” Aku mendudukkan diriku di sofa. Ternyata berdiri terlalu lama membuat kakiku kram.
“Yeah, aku bosan. Mom and Dad pergi bersama Gerald ke kantor Gerald hari ini. Anak pintar itu sungguh beruntung. Sudah lulus dengan predikat cum laude dan sekarang ia sudah dapat pekerjaan, benar-benar membuatku iri.” Sepertinya bukan hanya kau saja yang iri, Paula, ucapku dalam hati.
“Lalu?”
“Lalu. Aku menelponmu dan sepertinya kau sudah punya rencana.”
“Hanya membersihkan apartement Paula.” Aku memutar mataku. dia selalu saja melebih-lebihkan. “Kalau kau mau, kau bisa datang ke tempatku dan membantuku.”
“Baiklah. Beri aku waktu 20 menit dan aku akan sampai.” Lalu telpon itu langsung di matikan. Aku hanya mendengus. Selalu saja ia yang mematikan telponnya.
Setelah meletakkan ponselku. Aku mulai memungut pakaian kotor dari dalam kaamr dan membawanya ke dalam mesin cuci. Aku lebih suka mencuci sendiri dari pada harus membawanya ke laudry. Lebih murah dan lebih efisien, begitulah menurutku.
20 menit kemudian. Terdengar bel berbunyi. Sepertinya Paula sudah datang. Aku bergegas membuka pintu dan menemukan Paula sedang melipat tangannya di depan dada, menunggu dengan kesal.
“Kau lama sekali.” Sungutnya kesal.
“Kau terlalu berlebihan.”
Paula langsung masuk ke dalam. Ia menaruh tasnya di sofa disusul didirnya yang duduk disana. Matanya menatap sekeliling apartementku.
“Apartmentmu bersih. Apanya yang mau di bersihkan?”
“Menurutku ini kotor. Lagipula aku mau meninggalkan apartementku untuk pulang ke desa jadi lebih baik aku meninggalkannya dalam keadaan bersih.”
“Kau mau pulang?” tanyanya terkejut.
Aku mengangguk. “Mungkin ini saatnya aku pulang. Aku merindukan Mom.”
“Yeah, mungkin sudah waktunya.” Paula lalu menghembuskan nafas dan berdiri dari kursi.
“Oke, apa yang bisa kubantu?”
#####
Ketika aku sedang mengelap meja makan dan Paula sedang menyapu lantai, tiba-tiba terdengar bel berbunyi. Menandakan ada tamu.
“Biar aku saja.” Aku kemudian mencuci tanganku sebelum membuka pintu. “Andreas?” tanyaku terkejut ketika menemukan Andreas berdiri di depan pintu.
“Hey, sayang.” Andreas kemudian memelukku dan menyusupkan wajahnya di leherku. Aku masih berdiri dengan kaku. “Kenapa? Kau tidak suka aku pulang?”
Aku langsung menggeleng. “Tidak. Bukan begitu. Hanya saja… kau tidak biasanya pulang jam segini.”
Andreas tersenyum lembut. “Hari ini aku hanya ada rapat. Aku merindukanmu jadi aku cepat pulang. Dan bukankah kau bilang kau ingin membersihkan apartement?”
“Claura… siapa… oh!”
Yeah. Ini yang aku takutkan.
“Siapa dia?” bisik Paula di telingaku.
Aku menghela nafas. Mungkin ini sudah saatnya.
“Paula ini Andreas. Andreas ini Paula.”
Andreas tersenyum lembut. Ia yang pertama kali mengulurkan tangan selanjutnya Paula menerima uluran tersebut dan menjabatnya. Wajahnya masih terlihat bingung.
“Dan Andreas itu adalah?” tanya Paula mengamati Andreas.
“Kekasihku.”
“Claura!”
Aku langsung menutup kedua telingaku karena Paula baru saja berteriak. Bayangkan jaraknya hanya beberapa centi dan itu cukup membuat telingaku berdengung.
“Oh tuhan! Akhirnya…” Paula langsung memelukku dengan erat. Saking eratnya mampu meremukkan badanku .
“Apa maksudmu dengan akhirnya?” tanyaku sinis
“Akhirnya kau punya pacar juga!” aku menatap Paula dengan menaikkan alisku, namun sepertinya Paula tidka melihatnya karena dia sibuk berpelukkan dengan Andreas. Hey! Jangan sentuh pacarku!
“Kau beruntung, man. Sangat beruntung. Claura adalah orang yang baik dan bertanggung jawab. Kau tidak salah memilih dia.” Celoteh Paula dengan semangatnya
“Yeah, beruntungnya aku.” Ucap Andreas masih tetap tenang.
“Bisakah kita masuk ke dalam? Karena aku tidak suka menjadi tontonan.” Ucapku menginterupsi perbincangan mereka.
###
“Jadi… sudah berapa lama kalian bersama?”
Kami sedang duduk bertiga di ruang tengah. Dengan sangat terpaksa, acara membersihkan apartement harus di tunda karena Paula sangat ingin berbicara dengan Andreas.
“Cukup lama. 4 bulan? Aku tidak menghitungnya.” Jawabku tak acuh. Sungguh aku tidak menghitungnya.
“Ck… tidak seru. Bagaimana cara kalian bertemu? Pasti romantic sekali.”
Andreas tersenyum. “Kami bertemu saat ia mengembalikkan dompetku yang jatuh.”
“Oh! Jangan katakana kalau kau laki-laki itu!”
Alis Andreas mengkerut. “Laki-laki itu?”
“Ya! Laki-laki yang dompetnya di kembalikan oleh Claura tapi kau mengatai dia pencuri dan membuat dia tidak bisa ikut ujian.”
“Sepertinya aku memang laki-laki itu.”
“Oh… kau memang brengsek.” Ujar Paula seraya menyipitkan matanya. Tapi aku tahu kata-katanya itu hanya bercanda. Tapi tetap saja…
Aku langsung memelototinya. Namun Paula tak menggubrisku.
“Aku anggap itu sebagai pujian.” Ucap Andreas tenang.
“Berapa umurmu?”
“39.”
“What?! Claura! Kau mau pacaran dengan lelaki tua seperti ini?”
Oh tuhan! Andaikan aku memiliki lakban saat ini.
“Tapi tak apa. Wajahmu tidak menandakan kau lelaki tuan berumur 39 tahun. Tapi kau single kan? Maksudku kau dan Claura tidak berselingkuh di belakang istrimu kan?”
AKU BUTUH PISAU SAAT INI

No comments:

Post a Comment