Thursday, 27 June 2013

Always Love You - Part 1




Pagi ini aku bangun terlambat. Sialnya, hari ini aku ada ujian. Ujian dan aku terlambat. Kombinasi yang sangat bagus.
Aku langsung bangkit dari tempat tidur dan berlari ke kamar mandi. Mandi dan menggosok gigi secepat yang aku bisa. Tidak ada waktu lagi untuk sarapan. Dengan secepat kilat aku berlari menuruni apartement menuju ke kampus. Inilah akibat dari hidup sendiri. Semua harus kau atur sendiri. Sebenarnya mom tidak memaksaku untuk tinggal sendiri di apartement, itu semua aku yang meminta, karena aku merasa sudah saatnya aku memulai hidupku sendiri, tidak ingin lagi merepotkan mom.
Aku berlari mengejar bis ketika tubuhku menabrak bahu seseorang, mengakibatkan kami terjatuh dan tas beserta isinya jatuh berhamburan. Aku mengumpulkan barang-barangku secepat mungkin, begitu juga orang dihadapanku, kami tidak sempat memaki ataupun saling memarahi. Orang di depanku sudah membereskan barang-barangnya lebih cepat dariku, lalu berjalan meninggalkanku yang masih sibuk di bawah. Ketika aku menyampirkan tasku di bahu, ada sebuah dompet yang asing di mataku. Ini bukan dompetku. Apakah ini dompet milik orang itu? Aku mengambilnya dan berlari mengejar orang itu. Aku masih ingat ciri-ciri orang itu. Orang itu mengenakan mantel berwarna coklat dan menenteng tas berwarna hitam. Aku harus mencari orang itu di antara kerumunan orang.
“Sir!” teriakku ketika aku menemukan orang itu. Aku menahan lengannya agar berhenti berjalan. Orang itu memutar tubuhnya dan menghadap kepadaku. Matanya mengernyit dan ia mengamatiku dengan sedemikian rupa. “Dompetmu sir?” tanyaku masih terengah-engah.
Orang itu langsung meraba-raba saku mantelnya. Ia lalu menatapku dengan matanya yang disipitkan.
“Kau mencurinya ya?”
Aku tergelak. Apa? Apa yang barusan laki-laki ini katakan? Aku mencuri?
“Dompetmu terjatuh sir, ketika tadi kita tidak sengaja bertabrakan.” Ujarku mencoba menjelaskan.
“Tidak. Kau mencurinya. Bukankah itu modusmu nona muda? Pura-pura bertabrakan denganku lalu mengambil dompetku?” ucap laki-laki itu dengan sinis. Oohhh… aku mulai muak dengan ucapannya.
“Dengarkan baik-baik Sir. Pertama, aku tidak mencuri dompetmu. Kedua, tidak mungkin seorang yang mencuri dompet akan datang dan mengembalikan dompet itu kepada pemiliknya, dan Ketiga, aku masih terhormat untuk mencuri sebuah dompet yang tidak berharga seperti ini.”  Aku langsung melemparkan dompet itu kepadanya dan berjalan pergi.
Aku cukup menyesal karena mau menghabiskan waktuku untuk mengembalikan dompet laki-laki itu. Seharusnya aku biarkan saja terjatuh tadi. Aku melirik jam tanganku. Argh! Aku sudah benar-benar terlambat sekarang.
####
Aku memandangi dompetku di dalam ruanganku. Aku baru sampai di kantor pukul 8, tidak biasanya aku datang terlambat. Itu semua gara-gara tadi malam aku terlalu lelah bersama wanita itu sehingga aku bangun terlambat.
Gadis itu. Aku masih mengingat wajahnya yang merah padam menahan marah ketika aku menyebutnya sebagai seorang pencuri. Mata coklatnya yang indah begitu menghipnotisku, membuatku tidak bisa berkata apa-apa dan hanya mampu menatap matanya. Seakan-akan matanya begitu mmenenggelamkanku.
Sebenarnya aku tidak ada niat untuk menyebutnya sebagai seorang pencuri. Tapi karena tadi aku terburu-buru ke kantor dan mobilku rusak –yang membuatku harus memanggil taksi- membuatku tidak mampu berpikir dengan baik. Dan gadis itu, walau aku tahu ia berniat baik, tapi entah mengapa aku merasa ada modus di balik itu. Dan sepertinya kata-kataku tadi telah melukai harga dirinya.
“Sorry, Sir?”
Angela, sekretarisku masuk ke dalam ruanganku setelah mengetuk pintu tiga kali. Aku mendongakan wajahku.
“Sebentar lagi anda ada rapat dengan Mr. Kitagawa. Anda harus bersiap, Sir.”
“Aku akan turun sebentar lagi. Tolong persiapkan semuanya.” Kataku lalu mengambil mantelku yang aku sampirkan di punggung kursi. Tak lupa ku masukkan dompetku ke dalam saku jasku.
###
Aku tidak boleh ikut ujian. Entah aku harus marah atau menangis. Semuanya bercampur menjadi satu. Kalau bukan karena laki-laki itu aku mungkin masih mungkin mengejar bis dan masuk kuliah tepat waktu atau mungkin aku yang terlalu bodoh karena mau mengembalikan dompet laki-laki itu. Aku menghembuskan nafas kesal, tidak tahu yang mana yang benar.
“Hai, kau kemana saja tadi? Aku tidak melihatmu saat ujian.” Tanya Paula, ketika menemukan diriku duduk di kantin sendirian.
“Aku terlambat dan tidak boleh masuk.” Ucapku datar.
“Kau? Terlambat? Bagaimana bisa?” tanyanya tidak percaya.
“Tentu saja bisa. Aku belajar terlalu malam dan bangun terlambat.” Aku mendengus kesal.
Paula hanya mengangkat bahu dan berusaha mengubah topic pembicaraan. Ia tahu hari ini aku sedang tidak mood.
“Hari ini kau bekerja?” tanyanya kemudian
Aku mengangguk. “Memangnya ada apa?”
“Hari ini Leo mengajak kita ke pub milik pamannya yang baru buka itu. Sepertinya menyenangkan, dan aku rasa kau butuh sedikit penyegaran.”
Aku berpikir sejenak. “Aku rasa itu ide yang bagus. Jam berapa?”
“Jam 9 malam. Jangan terlambat.”
###
Aku langsung pergi ke restaurant dan mengganti pakaianku. Sudah menjadi kebiasaanku setelah jam perkuliahan aku akan kerja paruh waktu di Solitaire Restaurant sebagai pelayan. Uang hasil aku bekerja hingga saat ini masih cukup membiayai hidupku di tambah dengan uang saku yang selalu dikirimkan mom tiap bulannya.
Setelah berganti pakaian, aku langsung mengambil buku catatan kecil dan mulai menyapa pelanggan.
Ku hampiri meja bernomor 15 itu. Sekelompok laki-laki berpakaian rapi sedang serius membicarakan sesuatu. Sepertinya mereka sedang mengadakan rapat.
“Permisi. Ada yang bisa saya bantu? Anda ingin memesan apa?” tanyaku sopan. Kuperhatikan satu-satu wajah mereka. Perhatianku tertarik pada pria yang mengenakan jas berwarna hitam. Laki-laki itu? Laki-laki yang mengataiku seorang pencuri tadi pagi? Aku merasa hari ini aku sangat sangat sial.
Laki-laki itu juga menatapku tak kalah terkejutnya. Matanya sedikit melebar dan menatapku lama. Oh dan matanya, aku belum pernah melihat mata berwarna coklat seindah itu. Begitu jernih daan sedikit familiar.
“Maaf nona, kami ingin memesan.” Aku tersadar dari lamunanku. Aku membersihkan tenggorokanku dan mulai mencatat pesanan mereka. Setelah mengulang pesanan, aku pamit dan langsung menyerahkan catatan pesanan kepada Roy, koki restaurant.
Aku kembali menghampiri meja itu dengan pesanan mereka. Meletakkan satu-satu makanan yang masih panas itu ke atas meja. “Silahkan menikmati.” Ucapku sopan lalu pergi meninggalkan meja itu.
Aku berdiri dekat bar masih dengan menu dan catatan kecil di tanganku. Aku masih mengamati laki-laki itu. Aku masih merasa kesal dengannya. Gara-gara dia aku tidak bisa mengikuti ujian.
“Apa yang kau lihat, Claura?” tanya Red, bartender, yang sedang mengelap gelas-gelasnya.
“Meja nomor 15.” Ucapku datar.
“Meja nomor 15? Memangnya ada apa dengan meja nomor 15?” tanyanya bingung.
“Kau lihat laki-laki berjas hitam yang sedang memunggungi kita? Aku benci pria itu.”
Red menghentikan aktivitasnya dan melihat laki-laki itu. Dahinya mengernyit. “Memangnya apa yang dilakukan laki-laki itu kepadamu?”
“Gara-gara dia. Aku tidak bisa mengikuti ujian di tempat kuliahku. Karena aku menolong dompetnya yang terjatuh.”
Red masih mengernyit. “Aku masih tidak mengerti, Claura.”
Aku memutar mataku, hendak menjelaskan kembali kepada Red ketika seseorang memanggilku.
“Sepertinya seseorang memanggilmu, Claura. Lihat! Meja nomor 15.”
Setelah merapikan pakianku dengan cepat, aku menghampiri meja nomor 15. “Ada yang bisa saya bantu?” ku lihat kursi di depan laki-laki bermata coklat itu. Kosong. Sepertinya rapatnya sudah selesai.
“Sepertinya aku ingin membungkus beberapa makanan. Bisa?” tanya laki-laki bermata coklat itu kepadaku.
Aku mengangguk. “Anda ingin memesan apa?”
“Makanan yang paling mahal di restaurant ini apa? Aku pesan itu.”
Aku melebarkan mataku. Sombong sekali orang ini. Aku tahu dirinya kaya, dapat dilihat dari pakaiannya tapi aku tidak suka dengan ucapannya barusan.
“Kalau begitu tunggu sebentar.” Aku langsung pergi menghampiri Roy. “Makanan paling mahal satu. Di bungkus.” Jujur saja aku tidak tahu apa makanan yang paling mahal di restaurant ini. Makan disini saja aku belum pernah, mana aku punya uang untuk makan di restaurant ini? Roy sempat menatapku heran sebelum akhirnya membuatkan pesanan ‘aneh’ itu.
“Ini. Selamat menikmati. Ada yang lain?” aku memberinya bungkusan makanan yang masih hangat.
“Untukmu.” Ia mendorong bungkusan makanan itu menjauh darinya
Aku terdiam. Apa? Untukku?
“Sebagai permintaan maaf ku karena sudah mengataimu pencuri dan juga sebagai rasa terima kasihku karena kau sudah mau mengembalikan dompetku.” Ucapnya datar.
Aku masih terdiam. Memandangi bungkusan itu dengan bingung.
Laki-laki itu lalu berdiri dari kursinya dan berjalan ke pintu keluar. Meninggalkanku yang masih terpaku di meja nomor 15.
###
Ini adalah pertama kalinya aku makan makanan seenak ini. Tak salah bila makanan ini di hargai sangat mahal satu porsinya. Pertama kali aku menyendokkan makanan yang di berikan laki-laki bermata coklat itu aku langsung suka. Siapapun pasti akan suka dengan makanan ini. Walaupun porsinya sedikit dan tidak akan membuatmu kenyang, tapi mampu memanjakan indera perasamu.
“Sepertinya kau menikmati makananmu, Claura.” Ucap Red ketika menemukanku di ruang ganti pegawai.
“Ini makanan terenak yang pernah aku makan. Kau harus mencobanya, Red.” Aku menyendokkan makanan itu dan menyuapkannya kepada Red. Red memakan dan mengunyah makanan itu di dalam mulutnya. Ekspresinya langsung berubah.
“Kau benar. Makanan ini sangat enak. Kau membuatnya sendiri?”
Aku menggeleng. “Kau ingat laki-laki bermata coklat yang duduk di meja nomor 15 itu? Dia yang memberikannya padaku.”
“Dia? Bagaimana bisa?”
“Dia bilang dia ingin meminta maaf karena sudah mengataiku pencuri sekaligus berterima kasih karena sudah mengembalikan dompetnya.”
Red masih tidak percaya. “Dia masih mengenalimu? Wow, kau beruntung, Claura.” Red lalu mengeluarkan tasnya dari dalam loker. “Malam ini kau ada rencana? Bagaimana kalau aku teraktir minum?”
Aku memasang wajah menyesal. “Maaf Red. Sepertinya tidak bisa. Aku ada janji bertemu dengan temanku di pub milik pamannya yang baru buka itu.”
“Oh, pub yang banyak pengunjungnya itu? Bolehkah aku ikut? Aku akan mentraktirmu minum disana.”
“Benarkah? Tentu saja kau boleh ikut. Apalagi kau akan mentraktirku minum.” Aku meneguk air dari dalam botol mineral. “Aku harus mengganti pakaianku dulu. Jangan pergi tanpaku.” Aku lalu mengambil baju dari dalam loker lalu pergi ke kamar mandi.

No comments:

Post a Comment