Saturday, 29 June 2013

Always Love You - Part 2




Sesampainya kami di sana, suasanya sudah begitu ramai. Music disko bergema di seluruh ruangan. Membuatku harus berteriak ketika berbicara dengan Red. Aku melihat Paula bersama dengan Leo di bar, langsung saja kudekati mereka.
“Hai kenalkan ini temanku Red.” Ucapku memperkenalkan Red.
“Kau ingin minum apa?” tanya Red
“Terserah kau. Kau kan yang mentraktir.” Aku tersenyum. “Oh, tolong kalau bisa yang kadar alkoholnya rendah, perjalananku lumayan jauh.” Red kemudian mengangguk lalu memanggil bartender. Well, cukup aneh ketika seorang bartender berbicara dengan bartender lain
“Akhirnya kau datang juga.”
“Sudah kubilang aku akan datang.”
“Ini untukmu.” Red memberiku segelas bir. Aku menatapnya sebelum menerima gelas itu. “Apa? Kau bilang terserah padaku.” Ucap Red seraya mengangkat kedua bahunya. Aku menggelengkan kepala lalu meminum bir ku.
“Aku tinggal dulu.” Ucap Paula di telingaku yang kubalas dengan anggukan. Ia lalu menarik Leo untuk menari di lantai bawah. Musiknya memang pas untuk menari.
“Well, untuk pub yang baru buka, tempat ini sangat ramai.” Teriak Red kemudian ia meneguk minumannya.
“Kau benar. Tapi ini sangat mengasyikan.” Teriakku mencoba mengalahkan besarnya volume music. Aku kemudian menegak kembali birku. Ah… aku harus menikmati mala mini.
####
Aku baru saja pulang dari kantor. Kulirik jam tanganku, sudah hampir tengah malam rupanya, pantas saja aku merasa lelah.
Mobilku berhenti di lampu merah. Aku melihat keluar jendela. Heran, sudah malam seperti ini tapi masih saja terlihat ramai. Pub itu salah satunya. Kelihatan ramai sekali. Penuh dengan anak-anak muda. Aku tersenyum, seperti mengingat masa lalu. Aku juga seperti itu sewaktu muda. Semuanya berubah ketika aku bertemu dengannya.
Mataku menemukan sesuatu yang ganjil. Gadis itu? Ya tuhan, ini adalah ketiga kalinya aku bertemu gadis itu dalam satu hari. Ku lihat gadis itu baru saja keluar dari pub yang aku lihat barusan. Ia terlihat merapatkan jaketnya dna kepalanya seperti mencari sesuatu. Tak berapa lama kemudian ada 3 orang keluar dari pub itu. Seorang wanita dan dua orang laki-laki. Mereka kemudian mengecup kedua pipi gadis itu bergantian lalu meninggalkan gadis itu sendirian di depan pub.
Lampu berubah menjadi hijau, mobilku berjalan kembali. Aku meminta supirku untuk berhenti di depan pub itu. Ia kemudian memutar mobilnya dan berhenti tepat di depan gadis itu. Aku menurunkan kaca jendelaku.
“Kau? Ya tuhan! Ini sudah ketiga kalinya aku bertemu denganmu dalam satu hari sir.” Seru gadis itu terkejut. Well, aku kira hanya aku yang menyadari kalau kita sudah bertemu tiga kali.
“Kau mau pulang?” tanyaku datar.
Ia mengangguk. “Aku sedang mencari taksi.”
“Naiklah. Akan ku antar kau pulang.” Ucapku menawarkan.
Ia mengangkat alisnya. Kaget lalu menggeleng. “Tidak perlu sir. Aku bisa pulang sendiri.”
“Ini sudah larut malam. Dan sepertinya sudah tidak ada taksi yang lewat. Naiklah. Aku berjanji tidak akan macam-macam.”
Ia kemudian tampak berpikir lalu mengangkat bahunya dan kemudian masuk kedalam mobilku
“Kita belum berkenalan. Namaku Andreas. Kau?” aku mengulurkan tanganku
“Claura. Namaku Claura.” Ia kembali menjabat tanganku. Lalu memutar kepalanya menghadap ke jendela.
Aku menghembuskan nafas. “Aneh bukan, kita kembali lagi bertemu.”
Ia mengangguk tanpa mengalihkan pandangannya.
“Um… sepertinya aku belum meminta maaf atas kejadian tadi pagi. Meminta maaf secara langsung lebih tepatnya.”
Ia kemudian menolehkan kepalanya. Menatapku dnegan tatapan menunggu.
“Kau sudah meminta maaf tadi siang, sir. Kau ingat? Kau memberiku makanan di restoran itu dan sepertinya itu sudah cukup, walaupun aku masih kesal karena gara-gara mengembalikan dompetmu yang terjatuh itu, aku terlambat dan tidak boleh mengikuti ujian.”
“Panggil aku Andreas. Ujian? Kau seorang pelajar?”
“Mahasiswa lebih tepatnya. Aku kuliah di jurusan teknik.”
“Dan kau bekerja di Solitaire restaurant?” aku bertanya dengan hati-hati takut menyinggung perasaannya.
Ia mengangguk. “Aku bekerja paruh waktu sebagai pelayan disana.”
“Menarik. Kurasa hidupmu sangat menarik Claura.” Aku tersenyum kepadanya. Menatap kedua matanya yang menatapku dengan bingung. Aku mengernyit. Ada sesuatu yang aneh di matanya. Sepertinya aku mengenali bentuk mata seperti itu.
“Sudah sampai tuan.” Suara supirku membuyarkan lamunanku.
“Oh. Sepertinya kita sudah sampai. Kau tinggal disini?” tanyaku seraya melihat apartement itu tampak luar. Terlihat sederhana.
“Iya. Aku tinggal disini.”
“Sendiri?”
Ia kembali mengangguk. “Kalau begitu terima kasih atas tumpangannya, Andreas.” Claura lalu turun dari mobilku dan menutup pintunya kembali.
“Senang berkenalan denganmu, Claura. Semoga saja kita bisa bertemu lagi lain kali.” Ucapku tersenyum.
Ia menganggukan kepalanya lalu memutar tubuhnya masuk kedalam apartement. Setelah tidak lagi melihatnya, aku menyuruh supirku untuk melajukan kendaraan.
“Claura… nama yang bagus.” Aku tersenyum ketika mengucapkan namanya. Dan entah mengapa aku merasa aku akan bertemu lagi dengannya.

No comments:

Post a Comment