Tuesday, 2 July 2013

Revenge (Long version) Part 13




Keesokan harinya sehabis kerja aku menyempatkan diri untuk ke toko buah. Membeli beberapa buah untuk Krista. Setelah membayarnya, ku bawa kantung plastic itu masuk ke dalam mobil dan membawanya meluncur ke rumah sakit.
Sesampainya di rumah sakit aku langsung masuk ke dalam lift. Tak perlu lagi mencari kamar Krista karena aku sudah menghafalnya kemarin.
Aku langsung masuk ke dalam kamar perawatan Krista dan menemukan Krista sedang berbicara dengan seorang laki-laki yang membelakangiku. Krista langsung tersenyum ketika melihat ke datanganku. Laki-laki itu langsung memutar tubuhnya dan arah matanya mengikuti pandangan Krista. Laki-laki itu menggunakan setelan jas lengkap dengan dasinya. Sepertinya ia orang penting.
“Hai Dika.” Sapa Krista dengan suaranya yang lemah. Aku membalasnya dengan tersenyum
“Untukmu.” Aku memberikannya kantung plastic berisi buah-buahan yang aku beli tadi. Ia menerimanya dengan senyum.
“Terima kasih. Oh ya, kenalkan ini kakakku, Hans.” Aku menngulurkan tanganky dan ia menyambutnya. Jabatan tangannya terasa begitu tegas dank eras. Sepertinya wataknya orang yang keras.
“Hans.”
“Dika.” Sedetik kemudian tercipta keheningan di antara kami bertiga. Keheningan itu di pecah oleh suara ponsel yang berbunyi. Hans lalu merogoh sakunya dan mengeluarkan ponselnya, ia meminta izin keluar sebentar untuk menerima panggilan itu.
“Kamu baru pulang kerja?” tanya Krista kemudian. Aku menjawabnya dengan mengangguk. “Bagaimana keadaan di kantor?”
“Semua orang-orang kantor menanyakan kabarmu. Mereka menyampaikan salam, mungkin besok baru bisa menengokmu.”
Krista tersenyum lembut. Matanya tampak menerawang. “Ingin rasanya kembali ke kantor secepatnya. Aku bosan disini.”
“Kalau begitu kamu harus cepat sembuh. Lisa dan karyawan yang lain merindukan celotehanmu.”
Krista kembali tersenyum. Senyumnya menampakan bahwa ia begitu rapuh. Kulitnya masih pucat dan ia tampak kurus.
Hans kembali masuk ke dalam kamar. Ia meminta maaf harus pergi karena ada pekerjaan mendadak. Hans mengecup kening Krista dan mengatakan cepat sembuh, lalu menjabat tanganku kembali dan pergi.
“Kakakmu sepertinya sibuk sekali.” Gumamku masih memandangi pintu.
“Begitulah. Ia harus kembali ke Singapura sesegera mungkin.”
“Singapura?” tanyaku terkejut.
“Kakakku ttinggal di Singapura bersama papa. Kakakku harus mengambil alih perusahaan papa di Singapura.”
Perusahaan? Berarti Krista adalah ornag yang sangat berada. Mengapa ia harus bekerja sebagai karyawan di Indonesia kalau keluarganya termasuk orang kaya?
“Mamamu? Kamu bilang kakakmu tinggal bersama papa, bagaimana mama mu?”
“Mama sudah lama meninggal. Mama meninggal saat aku masih SMA dulu.” Jawab Krista dengan tenangnya. Aku langsung tersentak kaget.
“Maaf. Aku… aku tidak tahu.”
“Tidak apa-apa, itu pertanyaan yang wajar. Oh ya, kamu sudah makan?”
Aku menggeleng. Aku memang belum makan. Setelah pulang kantor aku langsung kemari.
“Kalau tidak salah tadi ada yang membawakanku nasi dan ayam bakar, tapi karena aku belum boleh makan makanan yang seperti itu…. Kalau kamu mau makan saja. Masih hangat kok.” Krista menngeluarkan tempat makan berisi nasi dan ayam bakar.
“Tidak usah. Aku bisa membeli makanan di luar. Tidak usah repot-repot.”
Krista menggeleng. “Aku tidak repot. Makan saja, sayang sekali kalau tidak di makan.”
Aku pun mengambil tempat makan tersebut dari tangan Krista dan membukanya. Harum ayam yang begitu semerbak langsung membuat kelenjar air liurku bertambah. Harumnya membuat nafsu makanku bertambah.
“Makan disini. Ayo duduk.” Krista menepuk-nepuk kursi yang berada di sampingnya. Aku pun duduk disitu dengan memangku makananku.
Aku menyendokkan nasi dan ayam masuk ke dalam mulutku. Rasa ayam yang begitu nikmat langsung menyentuh indera perasaku. Tanpa kusadari aku makan dengan lahapnya.
Krista tertawa terkikik. Aku menatapnya dengan bingung.
“Lapar ya? Lahap sekali makannya.” Ujarnya lalu kembali tertawa. Aku di buat malu olehnya. Tiba-tiba jari-jari Krista terulur menyentuh sudut mulutku. Aku membeku. “Ada nasi di mulutmu.” Ia lalu mengambil nasi tersebut dan menaruhnya di atas tissue. Ia kembali tersenyum menatapku. Aku terdiam. Kelakuannya terhadapku begitu baik. Sangat baik.
“Kok diam. Kenapa tidak di lanjutkan makanannya?” pertanyaannya membuyarkan lamunanku. Aku kembali melanjutkan makanku dengan kikuk.
Aku kembali ke samping ranjang Krista setelah mencuci tangan dan mulutku. Ia sedang menonton televise ketika aku mengeringkan tanganku dengan tissue. Aku melihat waktu di jam tanganku.
“Sepertinya aku harus pulang. Sudah malam. Kamu juga harus istriahat. Terima kasih ya makanannya.”
“Sama-sama. Terima kasih juga karena mau menjengukku.” Krista tersenyum dengan lembutnya 
Aku mengecup kening Krista, membuatnya terkejut dan langsung memundurkan kepalanya. Ia menatap mataku dengan bingung. Aku juga bingung dengan apa yang barusan ku lakukan. Itu reflek. Aku tidak bermaksud, sungguh.
“Maaf. Aku tidak… bermaksud. Sungguh.” Ucapku terbata-bata.
Krista tampaknya masih syok. Karena ia mengangguk tapi matanya tidak melihat ke arahku.
“Kalau begitu aku pulang dulu.” Aku langsung keluar dari kamar Krista tanpa melihat ke arahnya lagi. Aku masuk dalam lift dengan perasaan kacau. Aku merasa orang yang mencium kening Krista tadi bukanlah aku. Aku mengacak rambutku. Pasti Krista berpikiran yang buruk tentangku. Argh…

4 comments:

  1. Yey!!! Dika udh mulai jtuh cinta sma Krista.. Lalala~\=D/

    ReplyDelete
  2. yeay.... aku juga seneng. akhirnya ku berbakat jadi cupid... :tring tring tring:

    ReplyDelete
  3. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  4. dilanjut lagi dunk..... jadi penasaran gmn akhirnya dika n krista bs bersama

    ReplyDelete