Wednesday, 22 January 2014

Pantai


“Serius mas kita mau ke pantai?”
Aldi mengangguk untuk kesekian kalinya lalu kemudian memeluk tubuh istrinya dengan sayang.
“Kamu kayaknya gak percaya sama aku.”
“Bukannya Sarah gak percaya sama mas. Cuma aja Sarah gak percaya akhirnya Sarah bisa ke pantai juga.” Ujar Sarah dengan senyum sumringah.
“Emang kamu belum pernah ke pantai?”
Sarah langsung menggeleng pelan. “Dulu waktu SMA pernah ada jalan-jalan ke pantai, tapi sayangnya Sarah gak bisa ikut, soalnya waktu itu Sarah lagi kena cacar.” Raut wajah Sarah langsung berubah muram.
Aldi langsung mengecup bibir istrinya. “Jangan cemberut gitu dong, kan besok kita ke pantai.”
Wajah Sarah langsung kembali cerah membuat Aldi merasa gemas dengan wanita yang telah satu tahun ini menemani dirinya.
“Sekarang Sarah tidur biar besok gak kecapean di jalan.” Aldi menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka agar tidak kedinginan.
“Sarah udah gak sabar lagi buat ke pantai, mas.” Ucap arah sebelum akhirnya ia menutup kedua matanya yang bulat itu.
Aldi mengecup kening istrinya dengan sayang. “Mas juga udah gak sabar sayang.”
*****
Sarah sedang menyiapkan keperluan yang akan di bawa untuk ke pantai nanti, sementara itu Aldi sedang sibuk menerima telepon dari kantornya.
“Baju udah, cemilan udah, apa lagi ya yang belum?” ucap Sarah tampak berpikir. “Ah! Topi! Masa ke pantai gak pake topi.” Kemudian ia mencari topi pantai yang kemarin di belinya di toko khusus untuk acara ke pantainya kali ini. “Ketemu!”
“Sayang?” Aldi tampak mencari-cari dimana istri mungilnya itu.
“Iya mas?”
“Sayang em…” Aldi tampak tak tega untuk mengatakan ini kepada istrinya.
“Kenapa mas?”
“Sayang. Gimana kalau acara ke pantainya kita tunda dulu?” ucap Aldi sepelan mungkin
Sarah terdiam. “Kenapa mas?”
“Mas tadi di telpon atasan mas, katanya mas di suruh menangani proyek baru. Proyeknya lumayan besar. Kalau berhasil mas bakal dapet kenaikan gaji.”
Sarah kembali terdiam lalu sedetik kemudian ia tersenyum lembut. “Ya udah gak apa-apa kok mas. Ke pantainya bisa di tunda.”
“Serius sayang?”
Sarah mengangguk sambil tersenyum.
Aldi kemudian langsung memeluk Sarah dengan eratnya. “Kamu memang yang terbaik. Mas janji minggu depan kita ke pantainya. Muuaaach.” Aldi mencium bibir istrinya dengan gemas.
*****
Aldi benar-benar sibuk sejak saat itu. Pulang kantor selalu larut malam setelah itu ia sibuk di ruang kerjanya, sampai ia lupa makan, lupa tidur, dan waktu yang ada selalu di gunakannya untuk bekerja membuat Sarah merasa khawatir dengan kesehatan suaminya.
“Mas. Udah malem tidur yuk.” Bujuk Sarah seraya menghampiri Aldi yang tampak sibuk dengan laptopnya.
“Kamu tidur duluan aja. Mas masih banyak kerjaan.” Ucap Aldi tanpa beralih dari depan laptopnya
“Mas harus istirahat kan besok mau ke pantai.”
Aldi langsung berhenti mengetik, ditatapnya Sarah dengan dahi berkerut. “Emangnya mas janji ya mau ke pantai besok?”
“Kan mas janjinya minggu depan mau ke pantai. Ini udah minggu depan.”
Aldi langsung teringat dengan janjinya minggu lalu. “Kayaknya ke pantainya mesti di tunda lagi deh sayang, kerjaan mas belum selesai.”
“Tapi mas udah janji mau ajak Sarah ke pantai.” Ucap Sarah sambil memainkan baju tidurnya dengan gelisah. Ia merasa acara ke pantainya akan di tunda lagi.
“Tapi kerjaan mas masih banyak. Nanti kalau kerjaan mas udah selesai kita langsung pergi ke pantai, ya? Jangan ngambek dong.”
“Janji ya?”
“Iya.” Kemudian Aldi memeluk tubuh mungil istrinya dengan sayang, sesekali ia mengecup puncak kepala istrinya. “Sekarang kamu tidur. Udah malem.”
“Mas juga jangan lupa istirahat ya.”
“Iya sayang.”
Setelah mengecup bibir istrinya sebagai ucapan selamat malam, Aldi kembali sibuk di depan laptopnya.
*****
Kian hari Aldi semakin sibuk. Sekarang setiap Aldi pulang ke rumah selalu membawa Dian, asisten barunya yang membantunya menangani proyek baru, lalu kemudian mereka akan sibuk di dalam ruang kerja Aldi hingga larut malam. Semakin lama Sarah semakin cemburu dengan adanya Dian. Entah mengapa Sarah takut nantinya Aldi akan berselingkuh dengan Dian karena intesitas pertemuan mereka yang sangat sering tersebut.
Ketika Aldi sedang mengganti baju kerjanya dengan pakaian yang lebih santai, Sarah mencoba mengeluarkan apa yang ada di pikirannya selama ini.
“Mas. Sarah pengen besok kita ke pantai.” Ucap Sarah dengan nada suara tegas.
Aldi yang mendengar ucapan istrinya langsung mengekerutkan dahi.  “Tapi kan kerjaan mas belum selesai.”
“Sarah gak mau tau, pokoknya Sarah besok mau ke pantai. Titik.”
Aldi menghampiri istrinya yang duduk di pinggir ranjang. “Ya gak bisa gitu dong sayang. Kalau nanti kerjaannya mas tinggal, kasian Dian yang harus kerja sendirian.”
Sarah langsung mendengus ketika mendengar nama Dian di sebut.
“Mas kok jadi mikirin Dian? Mas suka ya sama Dian?”
“Kok kamu ngomong gitu sih sayang?”
“Abis akhir-akhir ini mas deket banget sama Dian. Apa-apa sama Dian. Dian ini, Dian itu. Mas selingkuh ya sama Dian?”
“Kamu ngomong apa sih?!” amarah Aldi yang sedari tadi ia tahan akhirnya tersulut juga. Ia sudah capek-capek bekerja untuk istrinya dan malah sekarang istrinya menuduh dia berselingkuh? “Aku tuh capek-capek kerja untuk kamu! Untuk masa depan kita! Untuk anak kita nanti! Kenapa kamu nuduhnya aku selingkuh? Kamu liat sendiri kan selama ini aku sama Dian ngapain? Kerja! Dan sekarang kamu dengan enak-enaknya minta pergi ke pantai besok. Harusnya kamu sebagai istri ngerti dong. Jangan Cuma minta aja sama suaminya. Aku gak minta macem-macem sama kamu. Aku Cuma minta kamu ngertiin aku sekarang. Kita bakalan ke pantai kok tapi gak sekarang, gak juga besok tapi nanti.Kamu jangan kayak anak kecil dong.”
Sarah baru pertama kali melihat Aldi semarah itu hingga berani membentak dirinya. Sebelumnya Aldi tidak pernah membentak Sarah, jangankan membentak, memarahi saja tidak pernah. Hati Sarah sakit mendengar itu semua dari suaminya. Ia menangis terisak sambil sesekali menghapus air matanya yang mengalir terus.
Ting Tong…
Itu pasti Dian. Aldi tadi bilang bahwa Dian akan datang terlambat karena harus mengambil berkas yang tertinggal di kantor. Tanpa ucapan atau kata-kata lagi Aldi langsung keluar kamar, meninggalkan Sarah yang masih terisak menahan tangis, dan ketika Aldi keluar, tangis Sarah langsung terdengar memenuhi kamar.
“Sarah Cuma pengen ke pantai. Apa itu salah? Sarah Cuma pengen berduaan sama mas Aldi. Apa itu salah? Tapi mas Aldi lebih mentingin kerjannya daripada Sarah, sampe-sampe Sarah di bentak. Apa mas Aldi udah gak sayang sama Sarah?”
Sarah merebahkan dirinya di tempat tidur. Sambil memeluk gulingnya dengan erat ia mencoba meredakan tangisnya. Mungkin karena lelah, akhirnya Sarah jatuh tertidur.
*****
Tok tok tok…
“Mas? Sarah hari ini mau pergi belanja mas mau ikut?” tanya Sarah hati-hati. Pagi ini ia mencoba berkomunikasi lagi dengan suaminya.
“Kamu pergi sendiri aja. Mas hari ini mau nyiapin untuk presentasi nanti siang.” Jawab Aldi dengan mata masih terfokus pada laptopnya.
Sarah menunduk. “Tapi biasanya mas mau nemenin Sarah belanja.”
Aldi langsung menghentikkan jari-jarinya yang sedang mengetik. “Mas hari ini gak bisa. Kamu pagi-pagi jangan bikin mas marah dong.” Aldi mulai mengetik kembali. “Kamu pergi aja sama bi Inah.”
Sarah yang masih mencoba menahan air matanya yang mau keluar. “Ya udah, mas mau nitip apa?”
“Nggak ada.” Jawab Aldi singkat.
“Emm… Sarah berangkat ya, mas. Assalamualaikum.”
“Walaikumsallam.”
*****
“Udah non, jangan sedih lagi. Kalau non sedih bibi juga ikut sedih.” Ujar bi Inah ketika mereka berjalan hendak pulang ke rumah.
“Sarah Cuma ngerasa mas Aldi udah gak sayang lagi sama Sarah” ujar Sarah sambil merenggut.
“Kok non ngomong gitu sih?”
“Abis mas Aldi lebih mentingin kerjaannya daripada Sarah.”
“Kan den Aldi kerja buat non juga, buat anaknya non juga nanti.”
“Sarah nggak peduli sama uang bi. Sarah Cuma pengen mas Aldi peduli sama Sarah.”
Bi Ina tidak berani berbicara lagi. Ia merasa tidak sepantasnya mencampuri rumah tangga majikannya terlalu jauh.
“O ya bi. Tadi buah-buahannya udah kebeli belum?” ujar Sarah tiba-tiba.
Bi Inah tampak berpikir. “Kayaknya belum non.”
“Ya udah bi Inah langsung aja pulang ke rumah, Sarah beli buah-buahannya dulu.” Tanpa mengharapkan jawaban dari Bi Inah, Sarah langsung menyebrang jalan tanpa melihat kiri kanan terlebih dahulu.
“NON AWASSSSS.”
BRUKKKK….
“NONNNNNN….”
Semuanya menjadi gelap.
****
“Dengan menggunakan lahan tersebut dapat di perkirakan kita akan mendapat beberapa keuntungan, diantaranya udara yang bersih….”
Tut tut tut…
Tiba-tiba saja ponsel Aldi berbunyi. Ia lupa men-silent ponselnya tadi. Ia melihat siapa yang menelpon. Sarah. Aldi merasa geram. Untuk apa Sarah menelponnya bukankah ia sudah memberitahu kepada istrinya kalau hari ini ia akan presentasi?
Dengan cepat ia me-reject panggilang tersebut lalu memasukkan ponselnya kembali ke saku.
“Maaf atas ketidaknyamanan tadi. Selain udara yang bersih, keuntungan yang akan kita peroleh adalah harga tanah yang murah…”
Tut tut tut….
Aldi kembali merogoh sakunya. Sarah. Apa mau wanita itu? Kembali ia me-reject panggilan tersebut, namun kali ini ia mematikan ponselnya agar tidak menganggu.
“Jadi, dari beberapa keuntungan barusan kita dapat menghemat pengeluaran biaya.”
Tiba-tiba saja Laras, sekretarisnya masuk ke ruang rapat dengan wajah pucat pasi. “Pak Aldi?”
Aldi merasa amarahnya mulai memuncak. Apa lagi sekarang?
“Ada apa, Laras? Tidak bisakah menunggu saya selesai?”
“Maaf pak tapi ini darurat.”
Aldi mengerutkan dahinya. “Darurat bagaimana?”
“Bu Sarah kecelakaan pak, sekarang di bawa ke rumah sakit.”
“Apa?!”
*****
Aldi berjalan dengan tergesa-gesa dalam lorong rumah sakit, berkali-kali ia menabrak ornag yang berada di lorong. Ia langsung mohon undur diri dari ruang rapat dan menyerahkan presentasinya kepada Dian. Pikirannya terfokus pada istrinya, Sarah.
“Mama?” ia melihat ibu mertuanya di depan ruang operasi. “Sarah gimana ma?” tanya Aldi panic.
“Sarah lagi di dalam, Al.”
Aldi memandangi pintu ruang operasi dengan was-was. Tuhan, tolong selamatkan Sarah.
Setelah beberapa menit yang mengangkan akhirnya pintu ruang operasi terbuka. Dokter yang memakai seragam berwarna hijau keluar dari ruangan.
“Bagaimana keadaan istri saya dok?” tanya Aldi langsung
Dokter memandangi wajah Aldi dengan sedih. “Kami sudah berusaha semaksimal mungkin, tapi Bu Sarah kehilangan darah cukup banyak. Jadi dengan berat hati.”
“Nggak!!! Nggak mungkin dok? Dokter jangan bercanda sama saya ya?” Aldi langsung mencengkram baju dokter.
“Al, sabar nak. Kamu harus tenang.” Ucap mama seraya menahan tangis.
Aldi melepaskan cengkramannya dan langsung berlari ke dalam. Dilihatnya sosok Sarah di tengah ruangan. Wajahnya sudah memutih dan pucat.
“Sayang.” Bibir Aldi bergetar. Ia tidak percaya dengan apa yang terjadi. Ia mendekati tubuh Sarah. Dingin. Ia langsung memeluk tubuh istrinya dengan erat. “Bangun sayang. Sarah, bangun… jangan tinggalin mas sayang.” Ia mengusap rambut istrinya dengan sayang. Ia kemudian teringat dengan janjinya. “Sarah mau ke pantai? Kita ke pantai besok, nggak sekarang. Kita pergi ke pantai sekarang sayang, tapi kamu bangun dulu.” Air mata Aldi mulai berjatuhan. “Ayo bangun sayang, temani mas pergi ke pantai. Kita bikin istana pasir disana, kita lihat sunset disana.”
Mama yang melihat kejadian tersebut hanya mampu menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Ia tak sanggup lagi untuk berbicara.
“Jangan pergi sayang, mas mohon. Bangun… Kita pergi ke pantai sekarang. Kita main kejar-kejaran disana. Kamu yang lari, mas yang ngejar. Itu kan yang kamu mau?”
“Aldi.” Mama memegang bahu Aldi dan meremasnya dengan lembut. “Ikhlasin Sarah, nak.”
Aldi menggeleng. “Nggak ma. Sarah gak boleh pergi. Aldi belum bawa Sarah ke pantai.”
“Bangun sayang…”
****
Aldi memasuki kamarnya dengan mata kosong. Ia melepas dasi dan jas hitam yang ia gunakan dan melemparnya dengan asal. Kemudian ia duduk di pinggir ranjang dengan tatapan mata kosong.
Sudah tidak ada lagi Sarah-nya. Sudah tidak ada lagi.
Ia membuka lemari pakaiannya, hendak mengganti pakaiannya. Tiba-tiba saja matanya menangkap sebuah dress berwarna merah muda.
“Bagus gak mas? Sarah baru beli tadi. Kan kita mau ke pantai, jadi Sarah beli dress ini. Bagus gak?” tanya Sarah memperlihatkan dress berwarna merah muda ke hadapan suaminya. “Sarah juga beli topi ini. Ini kan topi yang biasanya orang-orang pake ke pantai. Kalau Sarah pake bagus gak?” Sarah kemudian memakai topi itu. Wajahnya semakin terlihat imut dan menggemaskan ketika memakai topi itu.
“Kamu pake dong. Biar mas tahu itu bagus apa nggak.”
Sarah kemudian menggeleng. “Sarah gak mau pake kalau kita belum nyampe pantai. Biar kerasa aura pantainya.” Ucap Sarah sambil tersenyum lebar.
“Aura pantai? Hahaha…” Aldi tertawa lebar ketika mendengar ucapan istrinya tersebut.
“Kok mas ketawa sih?” ucap Sarah cemberut.
Aldi menghampiri istrinya. “Jangan cemberut dong sayang, ntar imutnya ilang.” Kemudian Aldi menggelitik tubuh istrinya hingga Sarah terkikik senang dan memohon ampun.
“Sarah…” kemudian ia memeluk dress tersebut dengan eratnya. Kembali air mata Aldi berjatuhan. “Maafin mas sayang, mas belum bisa bawa kamu ke pantai. Maafin mas.”

4 comments:

  1. Hiks.. Sdih bgt :'(:'(:'(
    Gtu tu cwok klo udh lengket sma krjaanny..
    Huuuuu :'(

    -mendy jane-

    ReplyDelete
    Replies
    1. puk puk.... peluk mendy [{}]
      jangan nangis cayang... hahha... ini di buat pas aku lg galau tingkat akut hahhaa

      Delete
  2. Bagus banget ceritanya T_T
    langsung nangis tau endingnya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. sini sini peluk dulu... *peluk nadia*
      maaf baru baca comment mu, aku baru buka blog lg nih haha.
      waaaahhh makasih banget udah bilang cerita aku bagus merasa terharu *menitikan air mata* :D

      Delete