Sunday, 8 December 2013

Love You Forever



Suara erangan, jeritan, dengusan, sudah bukan hal yang baru lagi untukku. Melihat mereka saling tindih, berusaha saling memuaskan nafsu birahi masing-masing hingga akhirnya sebuah pelepasan indah yang mereka dapatkan lalu mereka telelap karena kelelahan. Aku melihat itu semua dari dekat. Ya… aku ada di antara mereka. Menjadi penonton setia setiap pergumulan malam mereka. Menjadi orang yang terakhir melihat mereka terjaga. Aku ingin sekali menjadi pemain di antara kegiatan mereka, sayang… aku harus di takdirkan sebagai penonton.
Setelah ku pastikan mereka tidur. Ku dekati ranjang yang berantakan itu. Duduk di samping seorang gadis yang terlelap dengan pulasnya. Merapikan rambut yang menutupi wajah manisnya. Merapikan anak rambut yang basah karena keringat akibat olahraga malam mereka. Inilah hiburan bagiku, melihat wajah kekasih pujaan hatiku dari dekat. Hanya ketika ia tidurlah aku mampu melihatnya dari dekat. Hanya ketika ia berada di alam mimpinya aku bisa menyentuhnya.
Wajahnya masih tampak sama seperti terakhir kami bertemu. Aku tersenyum. Sudah lama sekali kita bertemu. 3 bulan. 3 bulan yang lalu kami terakhir bertemu di restoran favorit kami untuk makan malam bersama, memperingati 3 tahun kami bersama sebagai sorang kekasih. Hal itu masih membekas indah dalam ingatanku.
Ketika aku sedang asik membelai pipinya yang lembut, tiba-tiba mata indahnya itu terbuka. Sepertinya ia terbangun. Matanya menatap nyalang ke langit-langit kamar. Di lihatnya laki-laki yang berada di belakangnya. Laki-laki yang tidur nyenyak di ranjang yang sama dengan dirinya. Seketika itu juga ia membekap mulutnya sendiri, setitik air mata jatuh mengalir membasahi matanya yang indah itu.
Tidak sayang, jangan menangis, aku mohon.
Gadis itu masih menangis dalam dia. Ia semakin mengetatkan telapak tangannya agar tangisnya tidak terdengar dan membangunkan pria yang di sampingnya itu. Setelah ia bia mengendalikan dirinya, gadis itu bangun dari tempat tidur, tidak lupa ia mengenakan pakaiannya kembali lalu pergi keluar kamar. Aku mengikutinya dari belakang, mencoba menebak ia akan pergi ke mana.
Gadis itu berhenti di ruang tengah dengan tangannya yang gemetar ia menyalakan televise, kemudian jari-jari tangannya yang lentik mencari kaset video di antara jejeran kaset di dalam lemari. Jemarinya berhenti di salah satu kaset. Mengambilnya lalu memasukkannaya ke pemutar video. Gadis itu memposisikan dirinya di sofa dengan mengangkat kedua kakinya ke atas, lalu kedua tangannya melingkar di lutut.
Rekaman video itu menyala. Bagian awal terlihat wajah gadis itu sedang tersenyum sumringah dengan sebelah tangannya menggenggam videocam, lalu sudut pandang berubah dengan hamparan ombak yang indah, ditemani dengan matahari tenggelam menambah keindahan pantai itu.
“Leo, kemari!  Lihat! Sebentar lagi matahari tenggelam.”
Kamera lalu menyorot seorang laki-laki yang berlari dari jauh dengan tergesa-gesa. Itu aku!
“Leo, lihat! Indah kan?” gadis itu kemudian kembali menyorot ombak yang bergulung dengan background kemerahan itu. “Leo!” seru gadis itu terpekik kaget. Ia merasa tubuhnya di tarik oleh seeorang lalu memeluknya dengan erat.
“Hal yang paling indah adalah kau, cantik.” Kemudian kamera menyorot sepasang kekasih yang berciuman dengan mesra di temani dengan heningnya pantai dan suasana yang romantis.
“Leo… hiks hiks hiks… leo…” perlahan gadis itu berjalan mendekat ke arah layar televise, jarinya yang bergetar itu menyentuh layar, mengusap gambar seorang laki-laki yang bernama Leo itu. “Leo… hiks… aku merindukanmu.” Kemudian tubuh gadis itu jatuh di depan televisie. Aku menghampirinya, menatapnya dengan lirih.
“Aku tidak sanggup Leo. Aku tidak sanggup. Kau pergi terlalu cepat Leo.”
Tidak sayang, aku tidak pergi. Aku disini. Di depanmu. Lihat aku sayang. Lihat aku.
“Mengapa kau harus pergi saat kita merayakan 3 tahun kebersamaan kita? Mengapa kau tega meninggalkanku, Leo!”
Aku tidak meninggalkanmu sayang. Aku disini. Tuhan… izinkan ia melihatku, ku mohon.
Beberapa menit kemudian gadis itu berdiri, dengan langkah gontainya ia berjalan kembali ke kamar. Di dekatinya sisi ranjang si laki-laki tadi. Ia duduk di samping laki-laki itu lalu mengusap kepalanya dengan lembut.
“Terima kasih, Frans. Kau memang sahabat Leo yang paling baik. Terima kasih karena kau sudah mau menemaniku hingga saat ini.” Kemudian gadis itu mengecup kening laki-laki itu lama. “Terima kasih dan selamat tinggal.”
Kemudian gadis itu berjalan memasuki kamar mandi yang terletak di dalam kamar. Di pandanginya dirinya yang terpantul dalam cermin. Setelah beberapa kali menghembuskan nafasnya, ia menarik laci yang berada di bawah meja, mengambil sebuah cutter. Kemudian ia berjalan memasuki bathup. Menyenderkan punggungnya pada marmer yang dingin.
“Aku ingin bertemu denganmu Leo. Aku merindukanmu. Aku mencintaimu, Leo” Dan….
SREEEEETTTTT…..
JENNNYYY!!!!!!
Gadis itu tersenyum miris. “Sebentar lagi kita akan bertemu, Leo sebentar lagi.”
Darah mengalir dari pergelangan tangannya dengan deras. Membasahi lantai kamar mandi dan mewarnainya dengan wajah merah pekat.
Aku berlari sekuat tenaga menghampiri laki-laki yang masih tertidur pulas itu.
Bangun bodoh! Bangun! Lihat Jenny! FRANS! BANGUN!
Aku berteriak sekuat tenaga tapi laki-laki itu maih tidak bergeming.
Aku mohon bangun Frans. Nyawa Jenny berada di tanganmu.
Aku sudah tidak tahu harus bagaimana lagi. Aku tidak ingin Jenny meninggal. Tidak. Hidupnya masih panjang. Bukan waktunya untuk dia pergi sekarang.
Sebuah keajaiban terjadi mata laki-laki itu bergerak, kemudian laki-laki itu terbangun. Tubuhnya bergerak ke samping mencari dimana gadisnya.
“Jen… Jenny….”
Dia di kamar mandi, BODOH! Dia edang berusaha mengakhiri hidupnya, cepat susul dia!
Laki-laki itu kemudian mencarinya di dalam kamar mandi. “Jen… Ya tuhan! JENNY!” Secepat kilat ia menghampiri gadis itu. “Jenny! Ya Tuhan! Bertahanlah jen…”
Ya tolong… tolong selamatkan dia, buddy. Hanya kau lah satu-satunya harapanku.
“Leo…” gumam gadis itu dengan suara parau.
Apa?
“Leo…” gadis itu menunjuk ke arah ku dengan jarinya yang penuh darah. Ia kemudian tersenyum manis. “Leo… akhirnya kita bertemu.”
Dia melihatku! Akhirnya gadisku melihatku!
“Apa?! Jenny… ku mohon bertahanlah.” Dengan segera laki-laki itu menggendong gadisku dan membawanya ke rumah sakit.
“Leo… aku mencintaimu.” Ucap gadis itu sebelum akhirnya ia tak sadarkan diri.
Aku juga mencintaimu, sayang. Gadisku. Cintaku. Jantungku. Jenny-ku. Aku mencintaimu, selalu. Selamanya.

5 comments:

  1. hmmm...............!!!! tragis amat neng ceritamu. muwahahhahaa........ errr...........

    ReplyDelete
    Replies
    1. pertama kali bikin cerita sedih tuh hahaha :D.
      idenya dari meninggalnya paul walker (gk nyambung bgt padahal sm ceritanya) dan jadilah cerita itu....

      Delete
  2. Ya ampun.. Stelah skian lma.. Akhirny ad post jga.. Wkwkwk
    Mbak, tragis bgt sih critany..:(
    Ckckck..
    Tpi knapa hrus gntung..T-T

    ReplyDelete
  3. Aku selalu suka kalimat-kalimat cerita bikinan vinda, ngena di hati.

    ReplyDelete
    Replies
    1. aaa... aku terharu blog ku di kunjungi mba andros >.<
      terima kasih mba. aku ini msh amatir loh. masih suka ada typo hihihi

      Delete