Sunday, 7 April 2013

Wrong or Right? Part 3





Aku meraba-raba tembok mencari sakelar lampu. Klik. Ruangan langsung menjadi bercahaya. Setelah mataku bisa menyesuaikan, aku menaruh tasku di sofa. Aku menghampiri lemari es dan mengambil botol yang berisi air mineral. Aku meneguknya hingga tiga perempat isinya. Aku haus sekali.
Aku berjalan menghampiri mesin penjawab telpon lalu menekan tombolnya. Mendengarkan siapa saja yang meninggalkan pesan. Yang pertama dari seorang sales yang menawarkan pemasangan internet di dalam rumah, diikuti dengan sales yang menawarkan produk-produk rumah tangga, dan yang ketiga...
"Halo... Alexa? Ini aku Julia."
Aku hampir tersedak mendengar nama itu. Julia?
"Apa kabarmu? Kau masih ingat aku kan? Karena bila kau lupa, tak segan-segan aku akan menghajarmu. Well, bila kau ingin berbicara denganku, kau bisa menghubungiku. Nomorku tidak berubah sama sekali. Tapi kalau kau sudah menghapusnya, kau tidak akan bisa menghubungiku. Bye, Alexa."
Aku masih terdiam di sofa. Julia? Sahabatku Julia?
Aku masih menyimpan nomornya di ponselku. Setelah tidak ada pesan lagi, aku mulai menekan tombol. Lalu terdengar nada sambung. Setelah dering ke dua, terdengar suara wanita.
"Halo?" Terdengar aksen british seorang wanita
"Halo. Julia?" tanya Alexa hati-hati
"Alexa?!" Terdengar wanita itu terkejut.
"Julia Bradl?" tanya Alexa kembali memastikan
"Iya ini aku, bodoh. Oh tuhan... akhirnya kau menelponku juga." Terdengar helaan nafas
"Kau menyambutku dengan memanggilku bodoh." Ucap Alexa sedikit tersinggung
"Aku sudah sangat merindukanmu, bodoh. Apa kabarmu?"
"Bisakah kau berhenti memanggilku bodoh? Karena sekali lagi kau memanggilku bodoh, aku akan langsung mematikan telponnya." Alexa menyandarkan tubuhnya di sofa
"Baiklah. Apa kabarmu Lexa?"
"Baik. Aku baik-baik saja. Kau?"
"Aku juga."
"Bagaimana dengan Andrew?"  aku langsung teringat dengan sahabatku yang satu itu. Oh... aku benar-benar merindukan mereka.
"Dia juga baik."
"Kalian masih bersama?"
"Tentu saja bodoh. Maksudku, tentu saja Alexa. Aku tidak tahu harus mencari pria mana lagi yang tahan akan mulut besarku."
Mau tak mau Alexa tertawa mendengar pernyataan temannya itu. "Ya, Kau harus menjaganya baik-baik."
"Tertawalah sekeras-kerasnya bodoh." terdengar suara Julia yang tidak senang, tapi ia tahu kalau Julia hanya bercanda.
"Omong-omong, kau tahu dari mana telpon rumahku?" Tanya Alexa setelah tawanya reda
"Aku bertanya pada ibumu. Kau memberiku nomor rumah ibumu dan kau tidak bilang padaku kalau kau sudah pindah dari rumah ibumu." Julia terdengar jengkel.
"Oh, aku minta maaf soal itu, Julia. waktu itu aku sedang sibuk. Benar-benar sibuk."
"Setidaknya kau mengirim e-mail padaku."  Julia masih terdengar jengkel.
"Oke, oke aku mengaku salah. Hey! aku dengar kau sudah bekerja?" Ucap Alexa seraya melepaskan stocking-nya lalu melemparkan ke keranjang yang berisi pakaian kotor.
"Darimana kau tahu itu? Ya, aku sudah bekerja. Kau tahu majalah fashion Dreamer? Aku menjadi editor disana."
"Aku tahu dari James. Sebulan yang lalu kami bertemu di Bali dan dia sudah menikah."
"No way. James si kutu buku itu? Wow... Aku harus mengatakan hal ini kepada Andrew."
Lama tak ada suara dari keduanya.
"Bagaimana denganmu?" Suara Julia memecah keheningan
"Apa? Aku sudah bekerja. Bukankah aku sudah memberitahumu ketika aku pulang ke Indonesia?"
"Ya, kau di terima sebagai humas dari sebuah perusahaan produk olahraga itu kan? Tapi bukan itu maksudku."
"Lalu apa?" tanya Alexa seraya kembali meneguk air mineral itu hingga habis.
"Kau sudah menikah?" tanya Julia hati-hati
Alexa hampir tersedak. Lalu tertawa keras. "Apa? Aku? Sudah menikah? Tentu saja belum. Pertanyaan yang aneh."
"Tadi siang aku bertemu dengan Steve. Bukan, dia yang menemukanku."
Apa? Apa yang barusan dia dengar? Steve?
"Dia menanyakan tentangmu." Suara Julia terdengar serius.
Alexa terdiam cukup lama. " Lalu kau bilang apa saja padanya?"
"Aku bilang kau sudah bekerja di Indonesia." Julia mengatakan itu dengan nada sura pelan. " Dia juga bertanya apakah kau sudah punya kekasih."
Deg! Untuk apa dia menanyakan hal itu?
"Dan kau jawab?" tanya Alexa ingin tahu.
"Kau masih single."
Kembali, Alexa merasa kesadarannya hilang beberapa detik.
"Tapi aku sudah memintannya untuk menjauhimu dan tidak mencarimu lagi." Suara Julia kini terdengar mendesak
"Dia bukan tipe orang yang mudah menyerah dan melepaskan begitu saja. Dia pasti akan mencariku." Ucap Alexa dengan mata menerawang. Dia tahu siapa pria itu. Dia tahu Steve tidak akan mudah menyerah. Dia tahu.
"Oh. Aku benar-benar minta maaf Alexa. Harusnya aku tolak saja permintaannya saat kami bertemu tadi. Aku benar-benar menyesal." Julia benar-benar terdengar sangat menyesal.
"Tak apa, Julia. Ini bukan salahmu. Kau tidak tahu." Alexa berusaha untuk menenangkan.
"Tapi Alexa..." Julia mengehela nafas lemah. " Lalu apa yang akan kau lakukan sekarang? Kau bilang dia pria yang tidak mudah menyerah."
Alexa menyandarkan kepalanya kebelakang. "Aku tidak tahu. Untuk sekarang tidak ada yang bisa aku lakukan." Lalu dia menghembuskan nafas keras. "Oke! Aku benar-benar lelah sekarang. Aku baru saja pulang bekerja. Senang bisa mendengar suaramu dan mengobrol dengamu, Julia Bradl." Ucap Lexa ceria.
"Aku benar-benar menyesal..."
"Sssst... kau berisik sekali. Sudah! aku ingin tidur. Kita mengobrol lagi besok. Malam July."
"Siang, Alexa." Ucap Julia datar
"Oh ya aku lupa. Aku sedang berbicara dengan temanku yang berada di belahan bumi yang lain. Pasti biaya tagihan telponku bulan ini membengkak. Bye, Julia."
Lalu sambungan terputus. Alexa merosotkan badannya hingga lututnya menyentuh lantai. Dia pasti akan menemukanku. Steve pasti akan menemukanku. Haruskah aku menyerah? Lagi? Oh tuhan...
Alexa merasa tubuhnya benar-benar lelah sekarang. Ia lalu mengganti baju lalu mandi. Tanpa makan malam ia langsung beringsut ke tempat tidur. Hari ini benar-benar melelahkan.
****
Jam weker Alexa berbunyi begitu nyaring. Rasanya ia ingin melempar jam itu lalu kembali tidur, tapi ia ingat hari ini ia harus kembali bekerja. Dengan engganya ia mematikan alarm yang membangunkannya dari tidur nyenyaknya lalu beranjak dari tempat tidur. Aku berharap waktu berjalan begitu cepat dan hari ini, hari Sabtu. Ia menyambar handuk yang berada di gantungan lalu berjalan gontai ke kamar mandi. Nyawanya belum terkumpul banyak.

"Pagi, Alexa." Seru Jenny dengan cerianya.
"Pagi." Ucap Alexa singkat. Ia masih sangat merindukan ranjangnya yang empuk dan nyaman itu. "Kau kenapa pagi-pagi begini?" tanya Alexa seraya menggaruk-garuk kepalanya yang tiba-tiba terasa gatal.
"Tadi malam. Reno melamarku." Ucap Jenny sedikit histeris membuat orang-orang yang berada di ruangan itu melihat mereka dan tersenyum kecut.
"Yang benar? Selamat ya." Alexa merasa rasa kantuknya hilang. Ia sangat sendnag mendengar abar gembira dari sahabatnya itu.
Jenny mengangguk dengan semangat. "Kukira kemarin hanya makan malam biasa. Tapi setelah dia menyodorkan sebuah kotak dan membuka kotak itu. Akh!" Kembali Jenny berteriak "Ada cincin manis yang berada di dalamnya. Lihat." Seru Jenny seraya memperlihatkan sebuah cincin manis yang sekarang berada di jari manisnya. "Manis sekali bukan? Dia yang memasangnya."
Mau tak mau, Alexa ikut tersenyum bahagia. "Aku turut bahagia, Jenny."
"Malam ini kami ingin merayakannya, sekaligus memproklamirkan bahwa kami sekarang sudah bertunangan."
Alexa hanya mengangguk pelan
"Dan kau harus ikut. Ini tempat beserta alamatnya. Aku yakin kau pasti tahu tempatnya"
Alexa langsung melotot dan dengan cepat menolehkan kepalanya menghadap Jenny. "Aku?" Alexa menunjuk dirinya. "Kenapa aku harus ikut?"
"Karena kau temanku dan aku ingin kau ikut. Jadi kau harus ikut."
Alexa menahan senyum. "Wow, aku sangat tersanjung sekali kau menganggapku teman." Alexa mulai menyalakan komputernya. "Bagaimana kalau aku malam ini ada acara?"
Jenny mencondongkan badannya. "Memangnya kau punya acara malam ini?"
Alexa mengangkat bahu. "Siapa tahu? Tiba-tiba saja ada seseorang yang mengajakku keluar, bagaimana?"
Jenny menghembuskan nafas kesal. "Aku tidak mau tahu. Mau kau punya acara atau tidak, Kau harus datang!" Jenny berjalan ke mejanya, lalu berbalik. "Dan bila kau tidak datang? pertemanan kita putus!" Jenny duduk di kursinya dengan kesal. "Jam 8 kau harus ada disana." Suaranya terdengar memerintah
Alexa kembali menahan senyum, lalu menggelengkan kepalanya. Jenny benar-benar orang yang unik.

No comments:

Post a Comment