Sunday, 7 April 2013

Wrong or Right? Part 2





Dia sudah bekerja? berarti dia baik-baik saja? Syukurlah... aku benar-benar menghawatirkannya.
"Apakah dia sudah memiliki kekasih?" pertanyaanku tersebut mampu menghentikan langkah Julia
Julia menatapku heran. "Setahuku belum." Aku menghela nafas, cukup keras. Tanpa kusadari aku menahan nafas. "Tapi ingat. Jangan ganggu kehidupannya lagi. Biarkan dia menjalani hidupnya lagi."
Dan dia masih sendiri. Entah mengapa kenyataan itu sangat melegakan untukku. Dia masih sendiri.
Aku rindu sekali padanya. Senyumnya. Tawanya. Bagaimana cara ia berbicara. Bagaimana cara ia duduk. Aku benar-benar merindukannya. Dan ciumannya... Aku masih bisa merasakan manisnya bibirnya di bibirku. Begitu lembut lidahnya di dalam kerongkonganku. Begitu dalam bibirnya menekan bibirku. Aku merindukannya.
Haruskah aku pergi mencarinya di Indonesia? Tapi aku harus mencari kemana? ARGH! pengetahuanku begitu minim tentang dirinya. Aku bahkan tidak tahu siapa keluarganya. Yang aku tahu dia mempunyai seorang adik perempuan. Aku ini benar-benar bodoh.
"...lepaskan dia. Lupakan dia..." Entah kenapa kata-kata Julia barusan masih terngiang di telingaku. Atau aku harus melepaskannya? benar-benar melepaskannya. Siapkah aku?
Tiba-tiba ponselku berdering. Membuyarkan lamunanku di dalam cafe. Kulihat siapa yang menelpon. Ann.
"Halo?" Ucapku ketika aku setelah menekan tombol
"Steve? Kau dimana?" terdengar suara Ann di ujung sana
"Aku sedang di cafe dekat tempat gym. Tadi aku bertemu dengan teman lama dan kami sedikit berbincang-bincang." Aku menyandarkan tubuhku di kursi
"Kau akan terlambat makan malam. Kami menunggumu. Jangan terlambat. Mom akan marah dan hati-hati di jalan. Aku menyayangimu." Dan telpon terputus. Aku memasukkan kembali ponselku kedalam saku.
Aku menghela nafas keras. Setelah hampir 5 tahun aku tidak memikirkan Alexa dan kini ia muncul kembali di pikiranku. Aku masih ingat terakhir kali aku bertemu dengannya.
Saat itu sedang hujan deras dan entah mengapa Alexa memaksa ku untuk bertemu dengannya di luar. Biasanya kami bertemu di apartemennya. Aku masih ingat, ketika itu aku habis pemotretan di studio dan dia menelponku.
"Bisakah kita bertemu?" Suara Alexa terdengar kecil di telpon
"Tentu saja. Kita bertemu di apartementmu jam 8 malam." Ucapku seraya memasukkan pakaian kotorku ke dalam tas
"Jangan di tempatku. Di Cafe Didadian saja. Jam 10. Cafe sudah tutup. Aku tunggu." Lalu sambungan terputus.
Sesampainya aku di Didadian Cafe, tepat pukul 10 malam dan benar cafe sudah mau tutup. Bangku-bangku sudah berada di atas meja. Tapi ada satu meja yang di duduki oleh seorang wanita. Wanita itu sedang tidak menghadap ke jalan jadi tidak tahu kalau aku sedang memandangnya. Itu pasti Alexa.
Aku mendorong pintu cafe yang menimbulkan suara decitan, membuat Alexa menoleh ke arah pintu dan menemukanku sedang melangkah menghampirinya.
"Kau sudah sampai." Ucapnya tersenyum
"Apa yang terjadi?" Ucapku seraya menarik bangku yang berada di hadapannya lalu duduk. "Kau tidak biasanya memintaku untuk bertemu di luar. Kau sudah makan?"
Alexa mengangguk lalu tersenyum lemah. "Mencari suasana baru."
Aku menemukan ada hal yang tidak beres. "Ada apa Alexa?"
Alexa hanya menunduk memandangi jari-jarinya. "Apakah kau sudah bertemu dengan Ann hari ini?"
"Tadi pagi. Sebelum pergi ke studio."
Dia menghembuskan nafas berat. "Tadi siang aku bertemu dengannya."
Aku tidak berkata apa-apa. Menunggu dia melanjutkan
"Dan dia sudah tahu semuanya." Kulihat matanya menerawang. Mungkin mengingat kejadian tadi siang.
"Tentang?" tanyaku masih tidak mengerti
"Tentang kita." 
 Mataku melebar. "Apa maksudmu?"
"Dia sudah tahu tentang kita. Dia sudah tahu dimana kau tidur ketika kau sedang tidak ada di rumah. Dia sudah tahu apa saja yang pernah kita lalukan. Dia sudah tahu semuanya, Steve!" Suara Alexa terdengar parau, dia menahan tangis
Aku yang masih shock hanya membatu. Bagaimana? Bagaimana bisa?
"Aku tidak tahu bagaimana dia bisa tahu." Ucapnya seperti dia bisa membaca pikiranku.  "Tapi hubungan kita memang sudah lama. Sudah hampir 4 tahun."
"Apakah dia menyakitimu?" Ucapku, ketika kesadaranku sudah kembali
Alexa menggeleng. "Tidak. Malah dia tidak menyentuhku sama sekali." Tanpa kusadari aku menghembusan nafas lega.
"Tapi dia menangis." Lanjutnya. "Ann menangis di hadapanku. Dia terlihat begitu rapuh Steve. Aku seperti orang yang jahat sekali karena sudah menghancurkan sesuatu yang sudah dimilikinya."
Ann memang orang yang rapuh. Begitu rapuh. Sehingga aku bertekad ingin melindunginya. Tapi ternyata...
"Aku benar-benar orang yang jahat Steve. Manusia macam apa aku?" Alexa mulai histeris. Suara terdengar tidak terkendali.
"Alexa. Tenang. Kau harus tenangkan dirimu." Aku menghampirinya. Mendekapnya dalam pelukanku, berusaha menenangkannya.
"Aku telah mengambil hal yang paling berharga yang ia punya. Aku telah mengambil dirimu." Alexa menangis. Terdengar isakan tangisnya di bahuku.
"Apa yang ia katakan?"
"Ia bertanya. Apakah aku mencintaimu." Alexa benar-benar terdengar kesakitan
"Lalu?"
"Aku menjawab kalau aku sangat mencintaimu. Aku benar-benar mencintaimu Steve." Alexa langsung mendekap tubuhku lalu memeluknya erat.
Kami berpelukan cukup lama. Aku melepaskan pelukanku ketika sudah tidak terdengar isakan lagi. Aku menatap wajah yang berada di depanku sekarang. Kusut. Berantakan. dan Hancur.
Aku hapuskan air mata yang tersisa di pipinya seraya tersenyum. "Sudah baikan?"
Dia menggeleng lemah. "Apa yang harus...."
Aku menempelkan jari telunjukku di bibirnya. Menandakan ia harus berhenti berbicara. "Jangan berbicara lagi. Kau terlihat lelah. Ayo! Aku antar pulang." Aku berdiri seraya mengangkat lengannya, namun dia tidak bergeming.
"Aku harus pergi." Ucapnya lemah
"Ayo! aku akan bawa kau pergi."
Dia menggeleng. "Pergi meninggalkanmu."
Mataku melebar. "Alexa! kau sudah lelah. Kau habis bekerja dan kuliah. Kau harus istirahat. Aku akan antar kau pulang." Suaraku meninggi. Kembali aku menarik lengannya, namun kini ia menghempasannya dari genggamanku.
"Apa kau tidak mengerti Steve?! Dia sudah tahu kalau kau berselingkuh. Dan aku bersumpah kalau dia sedang menunggumu di rumah dan akan menceritakan ini semua." Ia beranjak dari kursi dan menjauhiku. "Kau dipihak yang bersalah. Hanya dua kemungkinan yang kau dapat. Dia memaafkanmu atau kau bercerai. Kau pasti tidak mau kalau bercerai kan?!"
Aku sudah tidak bisa menahan emosiku lagi. " Kalau dia meminta untuk bercerai akan kuturuti, asalkan aku tidak kehilanganmu. Tidak lagi."
"Lalu bagaimana dengan Bree dan Clara? Mereka masih kecil."
"Kami pasti bisa mengatasinya."
Dia menggeleng keras. "Tidak. Tidak mungkin. Aku sudah pernah mengalaminya Steve!" Alexa berteriak histeris. "Aku korban dari perceraian! Orangtuaku bercerai dan aku masih sangat kecil untuk menyadari kalau orangtuaku sudah tidak bersama lagi. Ibuku memenangkan hak asuh atas kami berdua. Dan kau tahu apa yang terakhir kali di ucapkan oleh ayahku sebelum dia pergi? 'Ayah akan mengunjungimu setiap hari. Bermain kuda-kudaan denganmu. Kita akan bermain sepuasnya' Tapi apa?! Dia tidak pernah kembali! Tidak sekalipun ia pergi mengunjungiku dan adikku. Dia berbohong Steve! dan aku percaya" Alexa benar-benar sudah hilang kendali. Ia berteriak dan menjerit.
"Alexa dengarkan aku. Aku mohon." Suaraku terdengar parau
"Aku tidak ingin menjadi wanita yang mengambil ayahku dulu. Aku tidak ingin menjadi wanita yang mengambil kebahagiaan orang lain."
Aku tidak tahu harus berkata apa lagi. Sebuah informasi baru tentang kehidupannya kembali terungkap. Dia korban perceraian. Tak heran dia menentang keras ketika aku ingin menceraikan Ann
Alexa menyambar tasnya dan melangkah dengan tergesa- gesa melewatiku yang membatu. Dia akan pergi! Apa? Dia akan pergi!!! Aku harus bagaimana? Aku... Aku...
BRRAAAKK.....
Tiba-tiba lututku terasa lemas dan aku terjatuh, mendorong meja yang berada di hadapanku. Pikiranku kabur, yang aku ingat Alexa kembali dan berlutut di hadapanku. Kedua tangannya berada di samping kiri dan kanan wajahku.
"Steve... Steve.... Tuhan... Bicaralah padaku Steve."
Setelah kesadaranku pulih. Aku langsung mendekapnya dan memeluknya erat. "Aku mohon... Aku mohon Alexa... jangan tinggalkan aku lagi. Aku mohon." Suaraku terdengar sedikit memaksa
"Oh tuhan... Steve..."
Dan 2 bulan setelahnya aku menemukan apartementnya kosong. Dia sudah tidak ada. Aku panik. Aku bertanya kesana dan kemari namun tidak mendapat jawaban. Aku frustasi dan hampir gila. Dia meninggalakanku. Benar-benar meninggalkanku.

No comments:

Post a Comment