Saturday, 20 April 2013

Wrong or Right? Part 5



 Alexa bangun dengan kepala pusing setengah mati. Tadi malam ia minum banyak sekali. Ini semua gara-gara Steve. Ia sudah bersumpah untuk tidak minum lagi, tapi sekarang ia merasa kesakitan karena sudah minum 5 gelas vodka. Sial!
Dengan langkah gontai, Alexa berjalan ke kamar mandi. Untung saja hari ini hari Sabtu. Langkahnya terhenti ketika melihat sesosok tubuh sedang tertidur di sofa. Dengan perasaan takut, Alexa menghampiri tubuh tersebut. Astaga! Davin! Apa yang di lakukan laki-laki ini disini? Di apartementku?
Alexa mencoba mengingat-ingat kejadian tadi malam. Tapi semakin ia berusaha, ingatan tentang Steve menelponlah yang muncul. Lebih baik aku tidak mengingat apapun. Laki-laki ini tertidur dengan posisi duduk, tangannya di lipat di atas dada, dan kepalanya ia senderkan di lengan sofa.
Tiba-tiba saja tubuh yang sejak dari tadi ia lihat itu menggeliat mungkin menyadari bahwa dari tadi ada yang memandanginya. Perlahan mata Davin terbuka, pertama kali yang dlihatnya adalah wajah Alexa.
"Pagi." Ucapnya dengan santai seperti tidak ada hal yang aneh.
Alexa masih menatapnya tajam. "Bisakah kau ceritakan padaku bagaimana kau bisa tidur disini? Di sofaku?"
Davin menguap. "Kau tidak ingat? Kau mabuk. Aku membawamu kesini, tadinya aku ingin meninggalkanmu di bawah tapi aku khawatir. Lalu aku membawamu ke atas, kesini. Kau membuka apartementmu. Masuk ke kamarmu, meninggalkan aku sendirian seperti orang bodoh." Ucap Davin panjang lebar.
"Mengapa tak kau tinggalkan aku sendiri disini, ketika aku sudah masuk ke kamarku. Atau kau...." Ucapan Alexa menggantung, dan tatapannya menyelidik.
"Wow wow tunggu dulu." Davin menarik nafas. "Aku tidak bermaksud yang bukan-bukan tapi tadi malam kau mengigau. Kau menyebut nama Steve dan Leave me alone, berulang kali. Aku jadi tambah khawatir dengan sikapmu itu. Jadi aku memutuskan untuk menginap." Ucapnya lalu beranjak dari kursi.
"Kamar mandi dimana? Aku ingin mandi, badanku lengket semua."
Alexa menunjuk ke pintu yang berada di ujung ruangan. Davin mengangguk.
"Kau punya baju ganti? Dan sikat gigi?" Ucap Davin nyengir, membuat Alexa menjadi tambah sebal.
"Akan ku cari bajuku yang kebesaran. Sikat gigi dan handuk ada di laci kamar mandi." Ucapnya lalu kembali ke kamar mandi, mencari baju untuk Davin
Selagi Davin mandi, baju sudah disiapkan di atas sofa. Alexa kini duduk di pinggi ranjang. Merenung. Tadi malam ia mengigau? Mungkin dia kelelahan. Tapi kenapa harus nama Steve yang keluar? Argh!!! Sial!
Terdengar suara pintu kamar mandi terbuka, membuyarkan lamunan Alexa. Alexa keluar dari kamar dan melihat Davin yang hanya terbalut handuk yang menutupi dari pinggang ke bawah. Rambutnya yang hitam terlihat basah. Ya tuhan... ia telanjang dada dan… begitu sexy. Davin memandangi pakaian yang di siapkan Alexa barusan.
"Kenapa?" Tanya Alexa
"Kau serius nih?" Davin menaikkan alisnya. "Hanya kaus U2 dan celana pendek?" tanyanya tak percaya.
"Hanya itu yang ada di lemariku. Yang lainnya pasti tidak akan muat di tubuhmu."
Davin menghela nafas berat, lalu mengangkat bahunya. "Mau gimana lagi?" gumamnya
Alexa mengerutkan bibirnya. Apa maksudnya mau gimana lagi? Siapa juga yang mengajak pria ini tidur di rumahnya? Menyebalkan sekali.
"Apa yang kau lakukan?" Seru Alexa ketika melihat Davin memegang ujung handuk yang melilitnya.
"Ganti baju." Ucap Davin polos.
"Di kamarku sana! Jangan disini!" Ujar Alexa seraya mempercepat langkahnya ke kamar mandi. Oh tuhan... Kenapa kau pertemukan aku dengan pria aneh ini?

*****

Kemarin Steve hanya iseng saja menelpon ke ponsel Alexa. Gadis itu pasti sudah mengganti nomor ponselnya, batin Steve. Hampir saja pada dering ke tiga ia hendak memutus sambungan, tapi tiba-tiba ada yang menjawab telponnya.
"Alexa?" Dengan spontan Steve menyebut nama itu.
Hening. Tak ada jawaban apapun dari sana. Steve memastikan kembali kalau telponnya masih tersambung.
"Halo? Alexa?" tetap tidak ada jawaban.
Steve hampir menyerah dan hendak menutup telpon itu. Mungkin ia salah orang, pikirnya. Tapi tiba-tiba terdengar suara seorang pria. Steve bersumpah ia mendengar pria itu memanggil nama Alexa.
"Itu siapa? Itu siapa? Itu suara siapa? Itu suara laki-laki kan? Alexa!" Steve tidak tahu mengapa dirinya tiba-tiba marah. Memikirkan Alexa bersama pria lain? Rasanya tidak sanggup bagi Steve.
"Alexa Ardy!!! Tolong berbicara denganku!!!"
"What do you want?!" Teriak Alexa tiba-tiba. Steve langsung terdiam ketika mendengar suara gadis itu. Ini benar-benar Alexa. Dan dia terdengar marah.
"What do you want, Steve? Can you just leave me alone?" Nada suara Alexa terdengar menurun. "Its over, Steve. Over. Please let me try to recovered my life again. Let me go."
Steve berusaha mencari kata-kata yang tepat. "I miss you, Alexa."
"Dont say it anymore! Never ever again." Suara Alexa kini terdengar kalut
"Tolong bilang padaku kalau kau juga merindukan aku. Setelah itu aku tidak akan mengganggumu lagi. Aku mohon." Aku mohon, Alexa. Aku mohon. Biarkan aku tahu kau masih ingat padaku.
Tiba-tiba sambungan terputus. Steve menatap ponselnya dengan alis berkerut. Apa yang terjadi? Apakah... Apakah Alexa yang mematikan telponnya?. Steve menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi. Gadis itu benar-benar ingin melupakannya. Bagaimana? Bagaimana bisa? Semudah itukah ia bisa melupakan semuanya? Apakah waktu 5 tahun cukup membuatnya benar-benar pergi dari Steve? Aku benar- benar harus bertemu dengannya. Harus.
 
*****

Alexa mencium bau masakan ketika keluar dari kamar mandi. Masih dengan handuk di kepalanya, Alexa menghampiri bau sedap yang berasal dari dapurnya itu.
"Hai!" Seru Davin ketika melihat sosok Alexa di depan pintu dapur.
"Kau bisa memasak?" Tanya Alexa tanpa mengubris sapaan hangat Davin
"Kau tidak percaya ya?" Ucap Davin nyengir. " Aku pernah tinggal di Inggris sendirian ketika aku belajar modeling disana, yang mau tak mau aku harus bisa masak sendiri." Lanjutnya seraya membalikkan telur yang berada di wajan.
Alexa hanya mengangguk kecil. "Aku juga pernah tinggal di Inggris. Liverpool tepatnya."
Davin langsung menatapnya, tidak percaya. "Really? Tak heran kemarin bahasa Inggrismu bagus dan terdengar sedikit aksennya."
"Ngomong-ngomong kau masak apa?" Tanya Alexa seraya melongok ke wajan.
"Omelet. Itu makanan yang cocok untuk sarapan. Omelet isi sossis." Davin menengok ke sana ke mari. "Bisa tolong ambilkan piring?"
Alexa langsung menyambar lemari yang berada di atas kepala Davin, lalu mengambil dua buah piring dan menyerahkannya pada Davin.
"Terima kasih." Ucap Davin ramah. Alexa tak menyangka senyum laki-laki ini begitu manis.
"Oh ya. Bajumu... Ehm... Bagaimana kabarnya?" tanya Alexa ragu-ragu. Tadinya ia tidak mau memikirkan tentang soal kemarin tapi entah kenapa kejadian kemarin teringat kembali.
"Aku yakin pasti sudah kering. Cuma air putih ini. Tidak perlu di permasalahkan." Davin meletakkan omelet di piring pertama.
Alexa hanya menunduk lalu mengangguk kecil.
"Kau mengenal Jenny?" tanya Davin seraya meletakkan wajan di tempat cucian. Alexa melihat ke kedua piring tersebut, dan dua-duanya sudah terisi telur.
"Dia temanku. Kami bekerja di perusahaan yang sama, dan bidang yang sama pula." Alexa memberikan sendok dan garpu pada Davin.
"Kau bekerja di perusahaan Adidas? Sebagai humas?" tanya Davin sedikit tidak percaya. "Kau bukan tipe wanita yang banyak bicara, kecuali bila sedang mabuk."
Pipi Alexa memerah. "Aku sedikit berhati-hati bila bertemu orang asing."
Davin mengangguk mengerti. "Aku bisa melihat itu." Dia menarik salah satu kursi di meja makan. "Ayo kita makan."

!@#$%^&*()

"Haruskah kau ke Indonesia? Untuk apa?" Tanya Ann ketika mereka hendak tidur.
"Aku di tawari iklan oleh perusahaan Adidas di Indonesia. Konsepnya bagus. Lagi pula mereka membayarku cukup tinggi. Tidak ada salahnya bukan?" Ucap Steve seraya membetulkan letak bantalnya sebelum berbaring.
"Kapan?" Ann memandang suaminya yang sedang menatap langit-langit rumah.
"Senin ada pertemuan dengan pihak Adidas di Indonesia lalu setelah itu akan langsung di mulai pemotretan, pembuatan iklan dan segala macamnya. Jadi senin aku harus ke sana."
Ann duduk di pinggir ranjang dengan diam. Steve membalikkan badannya dan melihat Ann. "Ada apa?" tanya Steve melihat raut wajah Ann yang murung.
Ann menggeleng. "Tidak apa-apa. Ayo tidur."

No comments:

Post a Comment