Friday, 12 April 2013

Wrong or Right? Part 4





Jam 7. 50 Alexa sudah sampai di tempat yang di tulis Jenny tadi siang. Alexa datang dengan menggunakan gaun terusan berlengan dengan warna merah jambu yang soft. Walau gaun itu sederhana tapi terlihat kemewahan dan keanggunan si pemakai, lagipula ia nyaman dengan gaun itu.
Banyak sekali yang datang ke acara itu, dan Alexa tidak tahu bagaimana pasangan yang baru bertunangan kemarin bisa mengumpulkan orang sebanyak ini. Alexa mencari-cari sosok Jenny di antara kerumunan orang. Karena ia tidak melihat. Ia menabrak seseorang. Alexa mendongak melihat siapa yang ia tabrak. Seorang pria, dan pria itu sedang memandangi pakaiannya yang basah. Alexa menyadari kalau pakaian itu bsaha karena dirinya.
"Ya, tuhan. Saya minta maaf... Aduh... Saya tidak sengaja." Seru Alexa tampak panik. Ia mengeluarkan tisu dari tasnya lalu berusaha membantu pria itu membersihkan bajunya, walaupaun tindakan itu tidak berguna sama sekali.
"Tidak apa-apa." Pria itu masih memandangi bajunya seraya mengelap bajunya dengan tangan kosong. "Untung saja hanya air putih, jadi tidak akan meninggalkan noda." Pria itu tersenyum memandang Alexa yang pasti tampangnya sudah pucat sekali.
"Aduh... Saya benar-benar minta maaf. Saya pasti menggantinya." Seru Alexa masih mengelap baju pria itu dengan tisu.
Tangan pria itu memegang lengan Alexa. Alexa menatap wajah pria itu dan menghentikan aktivitasnya. "Tidak usah. Sudah ku bilang tidak apa-apa. Nanti juga kering sendiri." Pria itu melepaskan pegangannya, lalu berjalan pergi. "Akh... Nikmati pestanya." Ucap pria itu seraya mengedipkan matanya.
Alexa hanya diam menatap punggung pria tersebut. Pria itu hanya menggunakan kaos abu-abu yang di padu dengan jas yang tidak formal berwana hitam dan jeans, tapi mengapa gaya pria itu begitu keren?
Alexa yang sedang melamun di kagetkan dengan tepukan di bahunya.
"Kau datang juga!" Seru Jenny dengan senyumnya yang lebar.
"Kau memaksaku." Ucap Alexa datar.
"Tapi kau tetap datang."
Alexa memandangi Jenny dari atas ke bawah. Malam ini Jenny mengenakan gaun malam berwarna ungu yang terbuka. Saking terbukanya belahan dada Jenny kelihatan. Alexa hanya meringis melihat pakaian temannya itu, tak sanggung memikirkan kalau ia yanga memakainya.
Jenny yang sadar akan tatapan Alexa, ikut menyelidiki. "Ada yang aneh dengan penampilanku?"
Alexa masih meringis. "Kau... malam ini... sangat berbeda."
"Oh, terima kasih. Reno bilang malam ini aku terlihat cantik dan sexy." Ucap Jenny bangga.
Alexa hanya mengangguk pelan, mencoba menyesuaikan matanya dengan pakaian Jenny. Ternyata tak hanya Jenny yang berpenampilan 'terbuka' malam itu. Hampir semua tamu perempuan berpenampilan berani, membuat Alexa merasa pakaian yang ia kenakan itu kampungan. Seharusnya aku kesini dengan menggunakan bikini.
"Ayo aku kenalkan kau dengan teman-temanku yang lain. Semoga saja di antara mereka ada yang tertarik padamu." Ucap Jenny seraya menggandeng lengan Alexa lalu membawanya kepada sekumpulan laki-laki yang sedang mengobrol.
"Hai." Ucap Jenny membuat para lelaki itu berhenti dan menatap Jenny. Alexa tahu apa yang di tatap oleh para lelaki itu.
"Hai Jenny. Pesta yang meriah." Ucap salah satu lelaki berambut jigrak
"Terima kasih." Ucap Jenny tersipu malu. " Kenalkan ini temanku, Alexa." Jenny memperkenalkan Alexa. Dengan malu-malu Alexa menyodorkan lengan kanannya. Para pria itu menyambutnya satu-persatu seraya menyebutkan namanya. Alexa tidak nyaman dengan situasi itu.
"Bagaimana? Ada tidak yang membuatmu tertarik?" Bisik Jenny di telinga Alexa.
"Kau harus membawaku keluar dari situasi ini atau tidak kakimu akan ku injak." Ucap Alexa sambil menggertakan giginya.
Jenny hanya tersenyum kecut. "Oke, gentleman, kami harus pergi. Enjoy the party." Seru Jenny ramah lalu kembali menggandeng lengan Alexa. Alexa merasa seperti layang-layangan saja di bawa kesana kemari.
"Reno!" Seru Jenny ketika melihat sosok Reno. Reno sedang berbicara dengan seorang laki-laki. Ya tuhan! pria itu!.
"Hai sayang." Kata Reno ramah seraya mencium kedua pipi Jenny
"Kenalkan ini temanku, Alexa." Seru Jenny riang
"Oh ternyata ini teman tunanganku yang selalu di bicarakan itu." Ucap Reno seraya mengulurkan tangan kanannya.
Dengan malu Alexa mengulurkan tangan kanannya. "Alexa."
"Moreno, tapi kau cukup memanggilku Reno." Ucap Reno singkat. "Oh, kenalkan ini temanku." Ucap Reno seraya menepuk punggung laki-laki itu
Laki-laki itu mengulurkan tangannya. Alexa menyambutnya dengan menunduk malu.
"Davindra, tapi kau bisa memanggilku Davin." Kata Davin ramah
"Alexa." Ucap Alexa singkat.
"Astaga. Apa yang terjadi dengan bajumu, Davin?" Seru Jenny kaget. Baju Davin terlihat basah, walaupun laki-laki itu sudah menutupinya dengan mengancingkan jasnya tapi noda itu tetap terlihat.
Davin tersenyum kecut. " Tadi aku menabrak seseorang. Untung saja ini hanya air putih." Ucap Davin seraya melirik Alexa. Rasanya Alexa ingin menghilang detik itu juga.
"Kau ingin menggantinya. Aku punya baju ganti di mobilku." Ucap Reno menawarkan.
Davin menggeleng pelan. "Tidak perlu. Sebentar lagi juga kering."

Sepanjang berjalannya pesta itu, Alexa berusaha sejauh mungkin dari Davin. Ia tak mau meliat pria itu dan menambah malu dirinya. Ia mengambil minuman dan makanan juga berbicara dengan orang-orang baru. Alexa merasa tidak nyaman, karena sedikit sekali yang ia kenal di pesta itu selain dari teman kerjanya.
Pukul 11 malam, Alexa merasa ia harus pulang. Ia benar-benar lelah sekali. Setelah berpamitan dengan Jenny dan Reno, Alexa pergi meninggalkan tempat pesta itu.
Sudah hampir 10 menit ia berdiri menunggu taksi yang lewat, tapi tak ada satupun taksi yang lewat, malah tak ada satu kendaraan pun yang lewat. Apa aku harus jalan kaki untuk pulang ke rumah?. Alexa memutusan untuk berjalan kaki, berharap ia menemukan kendaraan umum yang lewat.
Sebuah mobil Merchedes hitam melewatinya namun berhenti beberapa meter darinya. Sang pengendara keluar dari mobil lalu menghampiri Alexa. Ya ampun! Pria itu! Lagi?
Davin menghampirinya, matanya terlihat memperhatikan Alexa. Memastikan bahwa wanita itu ornag yang di kenalnya atau bukan.
"Alexa, right?" tanyanya memastikan
Alexa mengangguk.
Davin melihat sekitar lalu kembali menatap Alexa. Alisnya terangkat. Tatapan matanya seperti berkata 'Apa yang kau lakukan disini. Malam-malam begini. Jalan sendirian.'
Alexa yang menyadari tatapan mata itu, berkata "Aku ingin pulang. Sudah 10 menit aku berdiri disana, menunggu taksi lewat tapi tak ada satupun taksi lewat, malah tak ada satu kendaraan pun yang lewat. Jadi aku memutuskan untuk berjalan sampai aku menemukan kendaraan umum." Ucapnya panjang lebar.
Alexa menyadari Davin menahan senyum. Apa yang lucu? Apakah laki-laki ini menertawakannya?
"Kalau begitu. Mau aku antar?" Ucap Davin ramah
Alexa terlonjak kaget. Menumpang mobil pada laki-laki yang sama sekali ia tidak kenal? Tidak...
"Atau kau mau meneruskan perjalananmu hingga kedepan. Belum tentu nanti kau mendapatkan kendaraan. Ini..." Davin melirik jam tangannya. "Sudah hampir jam 12 malam.'
Astaga? Jam 12 malam? mana ada kendaraan umum jam 12 malam?. Alexa mulai ragu dengan pilihannya untuk menolah tumpangan Davin. Dengan terpaksa ia menerima tumpangan Davin.
"Oh. Tadi aku belum memperkenalkan diriku secara pribadi. Aku Davindra Dewantara." Ucap Davin seraya mengulurkan tangannya kembali.
Alexa menyambutnya. "Alexandra Ardy."
Davin mulai menyalakan mesin mobil, lalu pergi meninggalkan tempat itu.
"Kau tinggal dimana?" tanya Davin ramah
"Kau bisa menurunkanku di Jalan Siliwangi." Ucap Alexa datar
"Tidak. Aku akan mengantarmu hingga kau sampai di tempatmu. Jadi sekarang tolong kau beritahu aku dimana kau tinggal." Ucap Davin kesal
"Apartement Glory Residence."
"Aku tahu tempat itu." Davin menggerakan perseneling lalu mobil sedikit lebih cepat.
"Apa pekerjaanmu?" Tanya Davin memecah keheningan.
Alexa tak langsung menjawab. Ia menatap Davin curiga. Untuk apa pria yang sudah ia kotori bajunya menanyai dimana ia bekerja? Seperti penguntit saja.
"Hem... Bukannya maksudku ingin tahu atau apa tapi... aku tidak suka suasana yang sunyi." Ucap Davin seperti bisa membaca pikiran Alexa.
Tanpa berbicara Alexa menekan tombol lalu suara radio terdengar. Davin yang mengerti apa yang di maksud oleh Alexa hanya menunjukan segaris senyum.
"Saran yang bagus." Ucap Davin seraya menganggukan kepalanya, perhatiannya masih terfokus pada jalan.
"Baiklah. Bila kau tidak ingin memberitahuku dimana kau bekerja biar aku yang memperkenalkan diriku." Ucap Davin penuh percaya  Alexa hanya menatapnya tidak percaya. Bagaimana pria ini bisa begitu percaya diri?
"Aku bekerja sebagai model. Kalau kau suka membaca majalah Man, kau pasti sudah sering melihat aku." Ucapnya bangga.
Alexa mengerutkan kening. "Bukankah majalah Man itu majalah untuk pria dewasa?"
Davin nyengir lebar. "Memang. Keren kan?" Ucap Davin seraya menengok ke Alexa
"Pasti kau sering tampil naked ya?" Tanya Alexa sedikit menyindir, tapi Davin tidak berpengaruh pada sindirannya itu
"Tidak juga. Pose yang paling ekstrim yang pernah aku lakukan. Aku hanya mengenakan underwear dengan seorang wanita yang mengenakan underwaer juga." Ucapnya seraya menggoyangkan kepalanya ke kiri dan kekanan.
Alexa melotot ke arahnya. Pandangan itu langsung berubah menjadi jijik. Tuhan... mengapa kau pertemukan aku dengan pria yang menjijikan ini.
Davin menyadari tatapan mata wanita itu. "Tapi aku tidak pernah melakukan apapun dengan wanita itu kok. Hanya sebatas rekan kerja." Ujarnya menyanggah
"Bukan urusanku." Ucap Alexa ketus. Ia lalu kembali memandang ke luar kaca jendela.
Tiba-tiba ponsel Alexa berdering. Alexa menatap layar ponselnya dengan kening berkerut. Nomor yang tidak di kenal. Dengan ragu, Alexa menjawab telpon itu.
"Alexa?"
Deg! Suara itu?
"Halo? Alexa?"
Suara pria itu? Alexa masih hafal betul suara itu. Steve. Bagaimana? Bagaimana? Sial! Pasti dia masih menyimpan nomor ponselnya. Dia saja sudah menghapus nomonya beberapa tahun yang lalu. Dan... dan mengapa ia sampai tidak sadar kalau ini nomornya Steve?
"Alexa. Ini pasti kau. Tolong jawab aku. Aku mohon." Suara Steve terdengar putus asa
"Kenapa diam saja? Kau baik-baik saja Alexa?" Tanya Davin khawatir. Ia memperhatikan Alexa dengan wajah yang tiba-tiba berubah pucat. Ponselnya berada di telinga tapi mengapa ia tidak berbicara sama sekali?
"Itu siapa? Itu suara siapa? Itu suara laki-laki kan? Alexa!" Steve terdengar tidak sabar. Ia bahkan berani menggertak.
Alexa masih membatu. Ia tak tahu harus berkata apa atau berbicara apa.
"Alexa Ardy!!! Tolong berbicara denganku!!!" Teriak Steve di ujung telpon
"What do you want?!" Teriak Alexa tiba-tiba. Membuat Davin yang berada di sebelahnya sampai terlonjak kaget. Steve mungkin juga ikut kaget, karena tidak terdengar suara apapun disana.
"What do you want, Steve? Can you just leave me alone?" Suara Alexa terdengar melembut. "Its over, Steve. Over. Please let me try to recover my life again. Let me go."
Lama Steve terdiam. "I miss you, Alexa."
"Dont say it anymore! Never ever again."
"Tolong bilang padaku kalau kau juga merindukan aku. Setelah itu aku tidak akan mengganggumu lagi. Aku mohon." Suara Steve terdengar parau
Alexa sudah tidak mampu mendengarkan kata-kata Steve lagi. Ia lalu menutup flap telponnya, lalu melempar ponselnya ke kursi belakang. Ia yakin bila ia mendengar permohonan Steve ia pasti akan menyerah kepadanya lagi. Seperti dulu.
"Kau baik-baik saja?" Tanya Davin khawatir. Alexa lupa kalau ia sedang berada di mobil Davin.
"Kalau kau mau menurunkan aku disini tidak apa-apa." Ucap Alexa seraya menghapus air matanya yang sudah meluncur turun.
"Tadi aku sudah bilang kalau aku akan mengantarmu sampai ke tempatmu. Dan aku akan menepati janji itu."
"Kalau begitu jangan ke tempatku. Tolong dari sini belok kiri."

Alexa kini sedang berada di kursi bar dan memutar gelas yang berisi vodka miliknya. Di sebelahnya Davin memperhatikannya dengan tatapan yang Alexa tak pahami. Pria ini pasti jijik padaku, ucap Alexa dalam hati.
"Kau tidak minum? Aku yang traktir." Ucap Alexa lalu meneguk gelasnya hingga habis. "Tolong, Jack. Lagi." perintahnya pada seorang bartender.
"Aku menyetir." Ucap Davin singkat
"Kau pasti jijik padaku sekarang." Ucap Alexa setengah mabuk. Ini sudah gelas ke empatnya.
"Aku hanya heran. Aku--" Davin mencoba mencari kata yang tepat. "Aku hanya tidak menyangka."
"Tidak menyangka kalau wanita baik-baik seperti aku bisa menghabiskan 4 gelas vodka atau tidak menyangka kalau wanita baik-baik seperti aku bisa pergi ke tempat seperti ini?"
Davin hanya diam. Ia masih bingung.
"Apakah yang menelpon tadi pacarmu?" tanya Davin akhirnya
Alexa menggeleng cepat. "Lebih tepatnya. Mantan pacar."
"Dan tadi aku dengar kau berbicara bahasa Inggris dengannya. Dia orang Amerika?"
Alexa kembali menggeleng cepat. "Dia orang Inggris. Orang Inggris asli."
Davin hanya mengangguk tanda mengerti. Ia mulai mengerti apa yang terjadi, walau masih banyak hal-hal yang ia tidak mengerti. Tapi untuk seorang gadis yang tengah mabuk seperti ini, ini informasi yang cukup banyak.
"Dan ia ingin aku kembali." Ucap Alexa seraya memutar gelas yang berisi vodkanya yang ke lima.
"Dan kau tidak ingin kembali?"
Alexa menggeleng. "Tentu saja tidak. Aku tidak ingin kembali lagi kepadanya."
"Aku rasa kau harus pulang sekarang." Dengan sedikit memaksa Davin menarik lengan Alexa agar pergi dari tempat itu.
"Masukkan dalam tagihanku, Jack." Seru Alexa sebelum melewati pintu keluar.
"Biar aku yang bayar. Berapa semuanya?" tanya Davin seraya mengeluarkan dompetnya dari saku belakang.

No comments:

Post a Comment