Friday, 29 March 2013

Wrong or Right? Part 1





Tidak terasa sudah hampir 5 tahun semenjak aku memutuskan untuk pergi dari Inggris dan kembali ke Indonesia. Setelah aku menyelesaikan pendidikan S1 jurusan komunikasi di Liverpool, aku belum berniat untuk meneruskan ke S2. Aku sedang mencoba menikmati pekerjaanku sebagai humas dari sebuah perusahaan produk olahraga yang cukup terkenal di dunia. Ya... dunia, dan ini tahun ke-3 ku bekerja disini.
"Sudah dapat modelnya?" tanyaku kepada Jenny ketika kami sedang makan siang di kantin kantor
Jenny menggeleng. "Belum nih. Udah banyak yang aku rekomendasiin tapi gak ada yang disukai sama si boss."
Aku meminum coffe latte dingin punyaku. "Memangnya siapa aja yang udah kamu rekomendasiin?" Aku mulai menyantap nasi timbel yang sudah dari tadi menggoda perutku
"Dari Bambang Pamungkas sampai Darius! gak ada yang di ambil bos satu pun." Ujar Jenny kesal. Kami memang sedang mencari model yang tepat untuk menjadi brand ambasador kami untuk produk yang terbaru. Launchingnya masih 3 bulan lagi, tapi semuanya harus sudah dipersiapkan dari sekarang.
"Memangnya si bos ingin model yang seperti apa?"
Jenny mengangkat bahu. "Nggak tahu. Aku juga heran sama dia."
Aku hanya tersenyum kecut mendengar kata-kata Jenny barusan.
****
Dimana dia sekarang? Sudah hampir 5 tahun aku tidak mendengar kabar dari dia. Dua hari yang lalu ketika aku keluar dari tempat gym, aku melihat Julia. Ya, Julia temannya Alexa. Ku kejar ia sampai persimpangan jalan.
"Julia!"
Julia menoleh. Ia cukup terkejut karena yang memanggil itu aku, tapi aku tidak peduli dengan raut wajahnya itu, aku mendekatinya. "Julia bukan?". Saat itu Julia sedang bersama wanita. Dan wanita itu menatapku heran.
Julia mengangguk.
"Bisa kita bicara sebentar?"
Julia menatapku dengan tatapan yang tajam. Aku tahu aku pernah membuat sahabatnya terluka dan hancur tapi ayolah... itu bukan urusan dia sama sekali.
"Untuk apa?" tanyanya kasar
"Hanya ingin mengetahui kabarmu." Aku mencoba untuk lembut dan sopan. Aku harus menjaga image bukan?
Tatapan mata Julia tidak berubah.
"Hanya sebentar." Aku meyakinkan
Julia menghela nafas. "Kau duluan saja, nanti aku menyusul." Ucapnya kepada teman wanitanya itu. "Apa yang ingin kau bicarakan?" tanya Julia langsung ketika temannya sudah meninggalkannya.
"Kita bicara di sana." Aku menunjuk ke kedai kopi yang berada tepat di samping kami. Julia yang pertama kali pergi kesana dan aku mengikutinya.
"Kami pesan kopi robusta saja." kataku langsung ketika pelayan menghampiri meja kami
"Apa yang ingin kau bicarakan?" tanya Julia lagi
Aku menghela nafas. " Ini tentang Alexa."
Julia langsung mengela nafas kecil lalu menyenderkan tubuhnya di kursi. "Sudah kuduga."
Aku tidak menghiraukan sikapnya yang jelas-jelas tidak suka padaku. "Kau tahu dimana dia sekarang?"
"Kalau pun aku tahu. aku tidak akan memberitahukannya padamu."
"Aku hanya ingin tahu." aku bersikeras
"Untuk apa? untuk kembali merusak hidupnya dan membuatnya menderita lagi? iya?" Seru Julia kasar. Nada suaranya naik satu oktaf.
"Aku..."
"Sudah... lepaskan dia. Lupakan dia. Kau sudah punya hidupmu sendiri dan Lexa juga punya hidupnya sendiri."
Deg. kata-kata Julia barusan menghantam keras hatiku. Melepaskannya? Aku? Melepaskannya?
Pesanan kami sudah datang. Dua cangkir kopi robusta yang masih panas dengan asapnya yang mengepul. Sangat nikmat diminum dalam suasana dingin seperti ini. Julia mengambil cangkir miliknya dan menyeruputnya dengan lembut.
"Dia sudah bekerja." Ucapnya kemudian.
Bekerja? "Dimana?" tanyaku spontan
Julia menatapku. Ekspresinya terkejut. "Di Indonesia." Julia kembali menyeruput kopinya.
Aku menghela nafas. Lega. Lega rasanya dia baik-baik saja.
"Kau tidak akan memberitahuku lebih banyak lagi bukan?" tanyaku setelah aku meminum kopiku yang mulai dingin
Julia tersenyum kecut. "Tidak. itu sudah terlalu banyak." Tas Julia berbunyi. Julia mencari-cari ponselnya di dalam tas. Aku hanya memperhatikannya.
"Halo?" ucapnya ketika ponselnya sudah ditemukan. "Baiklah, aku akan kesana." Lalu Julia kembali memasukkan ponselnya ke dalam tas.
"Aku harus pergi." Julia menyampirkan tasnya di lengan sebelah kanan. "Saranku Kembalilah kepada hidupmu yang indah dan nyaman itu, lupakan dia, dan semua akan baik-baik saja. Sebagai sahabatnya aku tidak ingin melihatnya seperti kemarin-kemarin lagi. Aku harus bekerja. Terima kasih kopinya." Julia bangkit dan mulai melangkah
"Tunggu!" Seruku membuat Julia menghentikan langkahnya, lalu berbalik. "Apakah dia sudah punya kekasih?"
****
"Mau pulang bareng gak nih?" aku menghampiri meja Jenny dan menemukan Jenny sedang serius di depan komputernya.
"Nggak deh. Aku udah janjian sama Reno, dia mau jemput aku nanti jam 5." ujar Jenny lalu tersenyum malu.
"Kenapa?"tanyaku yang menangkap ekspresinya merasa geli
"Jarang banget Reno ngajakin pergi. Biasanya aku duluan yang ngajakin. Jadi aneh sendiri." Ucap Jenny cekikikan.
"Ya bagus dong. Dia jadi romantis dan pengertian."
Jenny kembali tersenyum malu. "Iya sih." Lalu kembali mefokuskan diri depan layar komputer. "Kamu sendiri Lex? Aku gak pernah liat kamu keluar bareng cowok. Kamu udah punya pacar belum sih?"
***
"Kamu udah punya pacar belum sih?"
Pertanyaan Jenny masih terngiang di telingaku. Pacar? aku tidak pernah ingin memikirkan itu lagi. Terakhir kali aku bersama dengan seorang lelaki dan lelaki itu sudah mempunyai istri dengan 2 orang anak yang masih balita. Lelaki itu yang sudah menjungkir-balikan duniaku dan menghancurkan kehidupanku 5 tahun yang lalu.
"Apakah kau mencintainya?"
Deg! Kembali pertanyaan 5 tahun yang lalu itu masuk kedalam memori Alexa. pertanyaan yang membuatnya pergi jauh-jauh dari Liverpool dan berjanji tidak akan kembali lagi.
Saat itu sedang musim dingin. Entah kenapa Ann meminta Lexa untuk bertemu. Tidak ada perasaan apapun saat itu. Mungkin soal pekerjaan, pikir Alexa. Ketika sudah sampai di tempat yang diminta Ann. Lexa langsung menemukan sosok Ann yang sedang duduk dengan tubuhnya menghadap kaca jendela.
"Sudah menunggu lama?" Tanya Lexa seraya menarik kursi di depan Ann
Ann menggeleng pelan. "Kau sudah pesan?" Lexa menggeleng." Kau ingin makan apa?" tanya Ann lembut
"Coffe latte saja. Aku tidak lapar."
Ann lalu memanggil pelayan, dan tak berapa lama pelayan itu datang, lalu Ann menyampaikan pesanannya tadi.
"Ada apa ingin bertemu dengaku?" tanya Lexa ketika coffe latte-nya sudah datang
Ann tersenyum lemah. " Sudah berapa lama?"
Lexa mengerutkan dahinya. Apanya yang sudah berapa lama?
"Sudah berapa lama kau bersama Steve?"
Deg! Apa? Apa yang barusan ia dengar?
"Ann... Aku... Apa maksudmu?" tanya Lexa gugup. Ia tak tahu harus bicara apa
"Aku sudah tahu semua. Kau dan Steve..." Kalimat Ann menggantung, tapi Lexa tahu kenapa. Ann tidak sanggup untuk meneruskannya
Lexa bingung. Dia tak tahu harus bagimana, berbuat apa. Apa yang harus aku lakukan?
"Aku belum bilang apa-apa dengan Steve. Mungkin setelah ini aku akan berbicara dengannya."
Lexa langsung mendongak. Menatap wajah Ann yang lemah dan tak berdaya itu. Ia wanita yang lemah. Tuhan.... apa yang sudah ku lakukan? Apa yang sudah kulakuan terhadap wanita ini?
"Kau tidak perlu membantahnya. Aku sudah tahu semua. Bila Steve tidak pulang ke rumah, ia pasti menginap di rumahmu kan?"
Kembali ia merasa ada palu besar yang memukul hatinya. Sakit.
"Sudah berapa lama?" kembali pertanyaan itu terucap. namun kini dengan nada suara berbeda. Lexa mencoba melihat dan... Ya tuhan! wanita ini menangis.
"Ann..." Lexa mencoba meraih tangan Ann namun dengan pelan Ann menjauhkan tangannya dari meja. Tindakan itu membuat Lexa lebih sakit lagi. Wanita ini sudah jijik dengan dirinya.
"Sudah berapa lama?"
Lexa tahu ia sudah tidak bisa membantah. "Kurang lebih 4 tahun." Ucap Lexa lemah
Ann langsung membuang muka dan melihat keluar jendela. Mengalihkan pandangannya dari Lexa dan Lexa tidak tahu harus berbuat apa. Coffe latte miliknya sudah dingin, sudah tidak enak lagi untuk diminum.
"Sudah selama itukah?" Ann mencoba mengendalikan emosinya
Kini giliran Lexa yang membuang muka. Ia tidak sanggup harus bertatapan muka dengan wanita yang sudah ia sakiti hatinya.
"Maafkan aku." hanya itu yang bisa Lexa ucapkan
"Aku tidak bisa menyalahkanmu." Ann meminum kopinya. "Aku tidak bisa menyalahkan siapa pun. Tidak aku, Steve, maupun kau. Aku anggap ini takdir."
"Apakah kau mencintainya?" tanya Ann kemudian
Lexa menatap Ann dengan pandangan tidak percaya. Apa?
"Apakah kau mencintainya?"
Sangat. Aku sangat mencintainya. Aku rela meninggalkan tunanganku demi suami anda, untuk kembali menjadi kekasih gelap suami anda. Aku sangat mencintainya, batin Lexa ingin meneriakan kata itu semua tapi ia tidak sanggup.
"Lexa, jawab pertanyaanku, ku mohon." Suara Ann terdengar parau.
"Aku sangat mencintainya."

No comments:

Post a Comment