Thursday, 14 March 2013

Revenge (Long Version) Part 5




Sesampainya dikantor, ku lihat para pegawai sedang berkerumun. Ku hampiri kerumunan itu. Ku bertanya pada temanku ada apa.
“Katanya ada pegawai baru. Pindahan dari Amerika. Keponakan dari si bos sendiri.” Ujar temanku tak bersemangat. Pegawai baru berarti saingan baru.
“Kenalkan ini keponakan saya. Namanya Krista Anindita. Dia baru selesai sekolah S2 di Amerika. Pernah bekerja di perusahaan asuransi terbesar di Indonesia dan sangat pandai.” Ucap bos dengan bangganya. Kami para pegawai hanya bisa tepuk tangan pura-pura bahagia dan pura-pura kagum. “Karena dia masih baru disini. Jadi saya minta Dika? Mana Dika?”
Aku yang merasa namanya dipanggil mengacungkan tangan. “Ada apa pak?” tanyaku bingung
“Nah. Saya serahkan Krista kepadamu. Kamu bantu-bantu dia, dia masih baru disini. Dia menjadi tanggung jawabmu.” Bos memegang pundak wanita yang berada di sebelahnya. “Oke semua. Kembali bekerja.” Dan para pegawai pun membubarkan diri
Aku hanya terdiam bersama Krista di hadapanku.
Aku mendesah. “Mari. Aku antarkan ke meja mu.”
Krista hanya menunduk malu ketika ku membawanya ke meja kerjanya. Setelah mengucapkan terima kasih. Aku pergi ke mejaku.
***                                                                     
“Udah liat pegawai baru? Itu keponakannya si bos.” Chris memamerkan senyumnya ketika kami sedang istirahat makan siang.
Aku mengangguk. “Udah.”
“Terus menurut kamu dia gimana?”
Aku mengaduk-aduk sup sebelum menyendoknya dan memasukkannya ke mulutku. “Biasa aja.”
“Dia cantik banget tau! Manis.” Ujar Chris gemas.
Aku hanya tertawa. “Kamu suka? Kebetulan banget dia satu divisi sama aku.”
Mata Chris melebar “Yang bener? Wah… aku bakalan sering-sering main ke tempat kamu, Dik.”
Aku hanya tertawa mendengar ucapan Chris barusan. Membayangkan Krista bersama Chris saja bisa membuatku tertawa.
****
Bekerja bersama Krista cukup menyenangkan. Krista mampu bekerja sangat professional, dia juga seorang yang teliti, jarang kutemukan kesalahan pada laporan yang dikerjakannya. Secara personal, Krista juga orang yang menyenangkan. Kami tidak pernah habis bahan obrolan.
Aku sedang mengerjakan laporan yang baru datang tadi pagi ketika tidak sengaja mendengar gossip dari wanita samping mejaku.
“Eh… kamu tahu Krista?” Tanya wanita berambut hitam panjang memulai bergossip.
“Krista keponakannya si bos itu?” Tanya si wanita berambut hitam memastikan.
Si wanita berambut panjang mengangguk. “Kamu tahu nggak gossip tentang dia?.” Bisik wanita itu. Diiringi oleh nada keterkejuttan dari si wanita berambut pendek.
“Gossip apa?”
Aku hanya bisa mendesah kesal. Apa tidak ada yang di kerjakan oleh kedua wanita ini selain bergossip? Membuang waktu saja.
Aku bertopang dagu dan menatap layar komputerku malas. Seandainya saja laporan ini dapat selesai dengan sendirinya.
“Katanya dia pernah nolak seorang cowok, temen satu kantornya dulu. Terus cowok itu nggak terima dia langsung bunuh diri. Katanya sih kecelakaan mobil, tapi dugaan kuat gara-gara di tolak sama Krista itu. Padahal cowoknya ganteng banget.”
"Kamu tahu siapa cowoknya?" tanya temannya penasaran.
"Namanya Yuda, apa Yudi apa, Budi.... Yuda Iya namanya Yuda."
Seketika itu juga mataku melebar. Yuda? Yuda adikku? Benarkah apa yang digossipkan oleh kedua wanita itu? Semua ini karena Krista? Yuda meninggal karena Krista? Ya tuhan…
Aku menutup wajahku dengan kedua tanganku. Seketika itu juga bayangan wajah Yuda menghampiri kepalaku. Yuda, segitu besarnya cintamu kepada wanita itu sehingga kau mau mati karenanya? Air mataku menetes. Membasahi kertas-kertas yang berada di bawahnya.
Jadi semua ini karena Krista? Gara-gara Krista Yuda meninggal? Gara-gara wanita itu kau harus merasakan patah hati yang sangat menyakitkan sehingga kau berpikir kau tak lagi sanggup untuk hidup? Padahal kau begitu memujanya. Tidakah ia merasakan ketulusan hatimu?
Tiba-tiba rasa kebencian muncul dari dalam hatiku. Kebencian yang teramat sangat yang menimbulkan kemarahan membuat ku ingin melakukan sesuatu. Wanita itu harus merasakan bagaimana sakitnya adikku. Bagaimana rasanya patah hati hingga kau berpikir tak ada gunanya lagi untuk hidup. Dia tidak tahu apa yang telah dilakukannya itu menimbulkan banyak sekali masalah bagi keluargaku. Karena dia… mamaku… mama… mama tidak lagi seperti dulu. Semua karena dia.
***
Hari ini aku memberikan laporan baru yang harus dikerjakan oleh Krista. Membayangkan wajahnya saja sudah membuatku benci setengah mati. apalagi harus berhadapan langsung dengannya. Ugh…
“Ini. Seminggu lagi harus selesai. Jangan terlambat.” Aku melemparkan map berwarna kuning dan meluncur mulus di atas mejanya. Krista yang sedang mengetik terkaget ketika aku melakukan demikian. Ia hanya menatapku heran. “Nanti siang ada rapat sama bos.” Aku pun berlalu dari hadapannya. Tak ingin aku berlama-lama dengannya.


Aku baru saja menyenderkan punggungku, ketika Chris datang dengan wajah sumringah.
“Hai. Kenapa mukanya suntuk banget, Bro.” Chris langsung duduk di kursi yang berada di depanku.
“Abis rapat sama bos. Capek banget.” Aku mengacak-acak rambutku frustasi.
Chris menatap jam tangannya. “Makan yuk. Laper nih.”
Aku mengiyakan ajakannya. Perutku memang sudah sangat keroncongan sekali.


“Aku baru jadian kemarin.” Ucap Chris santai membuatku tersedak karena sedang menyeruput kopi panasku. “Nggak kemarin juga sih. Udah hampir 2 minggu yang lalu.”
“Sama siapa?” tanyaku penasaran
“Rahasia.” Chris menyunggingkan senyum rahasianya. Membuatku sedikit kesal. “Akan ku beritahu nanti, ketika waktunya sudah tepat.” Chris kembali menyendok makanannya dan memasukannya kedalam mulut.
Aku menatap tajam dirinya sebelum aku mengangkat bahu dan berusaha tidak terlalu memikirkannya. Paling wanita teman kuliahnya, batinku.
***
Hari ini aku lembur. Menyebalkan sekali memang. Bukan karena aku lembur dan harus membatalkan makan malamku bersama teman-teman kuliahku, tapi karena aku harus lembur bersama Krista. Ya Krista. Dia adalah orang terakhir yang aku ingin berduaan saja dengannya. Kalau bukan karena besok ada presentasi, aku tak akan mau bekerja sama dengan dia.
"Ini rincian data yang kamu minta." Krista menyerahkan kepadaku map berwarna merah. Aku hanya melihatnya sekilas lalu kembali kepada komputerku.
"Kalau begitu aku pulang dulu." Ucapnya kemudian lalu kembali ke mejanya dan menyampirkan tas kerjanya di bahu.
"Tunggu dulu!" Seru ku cepat. Krista langsung menoleh dan menatapku heran. “Ada yang ingin ku bicarakan. Sebentar saja.”
Sebenarnya aku berniat berbicara tentang Yuda kepadanya. Berbicara baik-baik tentunya. Bagaimanapun juga dia adalah seorang wanita yang harus ku hormati.
Krista mengangguk lalu ia duduk di sofa kantor, dekat dirinya. “Bicara saja. Ada apa?”
Aku mulai gugup. Harus mulai darimana aku?
“Aku…”
Seketika itu juga terdengar suara dering ponsel. Aku yakin itu berasal dari ponsel Krista, karena nada deringnya berbeda denganku.
Ia merogoh kedalam tasnya, mencari-cari dimana letak ponselnya berada. Ketika ia mendapatkan ponselnya dan melihat nama yang tertera pada layar ponselnya, ia tersenyum.
“Tunggu sebentar.” Ia mulai mengakat telponnya dan menjauh dariku.
Aku hanya bisa menunggu dan menghela nafas panjang.
Ia kembali dengan wajah sumringah. Senyum bahagia terpancar dari wajahnya.
“Maaf, tadi mau bicara apa?”
“Itu tadi pacar kamu?” aku bertanya dengan nada sedatar mungkin.
Dia mengangguk malu.
“Udah lama jadiannya?”
“Baru kok. Baru…” ia tampak berpikir. “satu bulan.”
Tiba-tiba rasa kemarahan merasuki diriku. Wanita ini sedang asik berpacaran, sedangkan adikku sedang terbujur kaku di dalam tanah yang dingin dan sendiri. Tidak bisa aku terima.
Aku langsung mendorong tubuh Krista hingga menabrak tembok lalu mencengkram kedua tangannya ke atas. Krista memberontak. Ia meraung-raung meminta tolong dan menggeliyat berusaha melepaskan cengkramanku.

No comments:

Post a Comment