Sunday, 24 March 2013

Revenge (Long Version) Part 8



Aku habis dari kamar mandi. Hendak membereskan sedikit lagi pekerjaanku lalu pulang, makan malam bersama mama. Aku tersenyum membayangkan pertama kalinya kami makan malam bersama kembali.
Aku mematikan komputerku dan menyampirkan tas kerjaku, ketika aku mendengar suara isak tangis. Aku mendongak dan menemukan Krista sedang menangis terisak di mejanya. Aku menengok ke kenan dan kekiri dan menemukan hanya tinggal aku dan Krista di ruangan ini. Aku mendengus kesal. Lagi-lagi harus berdua.
Aku berusaha mengabaikan Krista dan berjalan menuju pintu, namun langkahku terhenti ketika mendengar Krista memanggil namaku. Dengan enggan aku memutar badanku dan menatap Krista.
“Ada apa?” tanyaku acuh.
“Bisa temani aku? Aku takut sendiri.” Ucapnya di sela-sela isak tangisnya.
“Aku ada janji makan malam. Jadi…”
“Aku mohon…”
Aku menghela nafas lalu berjalan mendekatinya.  Menarik kursi dan duduk di sampingnya.
“Nih!” aku menyodorkannya sapu tangan milikku karena ku lihat tissue-nya sudah habis. Krista langsung menerimanya dan menggunakannya untuk menghapus air matanya.
“Memangnya  kau ada masalah apa?”
“Aku… dan Chris. Kami bertengkar hebat.”
Apa? Ya ampun…
“Kalian bertengkar hebat dan aku harus menemanimu disini?” aku sudah hendak berdiri ketika Krista menggenggam tanganku. Aku sudah hendak menepis tangannya ketika melihat ada ruam merah di sekita pergelangan tangannya.
“Ini… kenapa?”
Krista langsung menarik tangannya dan menutup lengannya dengan tas. “Bukan apa-apa.”
Aku kembali duduk. “Dia menyakitimu?”
Krista hanya diam. Pandangannya tertuju pada jari-jari tanganya yang bertaut.
“Coba ku lihat.” Aku menarik pergelangan tangannya dan dia menjerit sakit. Dan benar. Pergelangan tangannya berwarna merah dan ada sedikit luka disana. “Dia yang melakukan ini?”
Krista kembali diam. Aku memang tak butuh jawabannya. Hanya saja aku tidak percaya Chris melakukan ini. Chris bukan orang yang bertemprament kasar.
“Ini harus di kompres, kalau kau tidak ingin ini terlihat besok.” Aku beranjak dari kursi hendak ke pantry meminta es ketika Krista kembali menghentikkan langkahku.
“Nggak usah. Nggak sakit kok.”
Aku menatap nya lama lalu kembali duduk. “Terserah. Ini urusan kalian berdua, aku sama sekali tidak ingin ikut campur.”
Lalu kami terdiam. Krista yang sibuk dengan pikirannya dan aku yang kehabisan kata-kata.
“Aku mau pulang.” Aku berdiri dari kursi, membenarkan letak tasku. “Kau mau ikut tidak?”
Krista menatapku lama, lalu mengangguk.
***           
Selama dalam perjalanan menuju apartementnya. Krista hanya diam. Tangisnya sudah berhenti, namun masih ada sisa air mata yang mengalir disana.
“Sudah sampai.” Aku mematikan mesin mobilku dan menatap wajah Krista yang tertunduk. “Krista… kita sudah sampai.” Aku kembali mengulang ucapanku dengan tidak sabar.
“Cium aku…”
Aku tersentak kaget. Apa? Apa yang barusan di katakana wanita ini? Aku tidak salah dengar?
“Cium aku, Dika.” Kini Krista mampu menatap wajahku, langsung menatap kedua mataku.
“Kamu sakit atau apa? Lebih baik sekarang kamu pulang dan jernihkan pikiranmu itu.”
“Aku… aku takut… takut ketika aku tidur nanti kejadian kami bertengkar itu teringat kembali. Aku takut. Aku takut ketika aku memejamkan mata dan bayangan Chris yang marah besar ada dalam mimpiku. Aku takut Dika.”
Aku memijit pelipisku. Entah mengapa kepala ini tiba-tiba berdenyut.
Aku memang membencinya. Aku memang ingin balas dendam. Tapi tidak dengan kondisinya yang seperti ini.
“Kau tahu aku membencimu.” Aku mencoba mengingatkannya.
“Aku tahu.”
“Lalu kenapa kau meminta permintaan bodoh itu?”
Ia mengangkat bahu. “Entahlah. Aku merasa kau bukan orang yang jahat.”
Aku menghela nafas panjang. Memejamkan mata mencoba mengendalikan kewarasanku.
“Krista, aku tetap….”
Ucapanku terhenti.  Aku merasa ada yang menindih mulutku. Menghentikan semua ucapanku. Aku membuka mata, dan melihat wajah Krista yang sedang terpejam mencium bibirku. Aku tiba-tiba menjadi beku.
Ciuman ini dari awal sudah merasa intens. Bagaimana tidak? Krista menciumku dengan lembutnya, tidak seperti aku menciumnya waktu tempo hari. Ciumannya teratur dan berirama. Tidak membabi buta. Aku dibuatnya terlena.
Krista sudah mengalungkan lengannya di leherku, membuat diriku semakin terpojokkan. Mau tak mau aku membalas ciumannya.
Tanganku di pinggulnya menahannya sekaligus membiarkannya mengeksplorasi bibirku. Sial! Wanita ini begitu liar.
Tiba-tiba bayangan wajah Chris datang menghampiriku. Membuatku tersadar bahwa ini salah.
Aku langsung menarik wajahku hingga kepalaku terpantuk dengan kaca mobil. Nafas kami yang terengah-engah saling membaur. Aku menatap tajam matanya. Matanya yang masih tersisa genangan air mata di pelupuk matanya. Pipinya juga masih basah karena air mata yang belum mengering.
“Krista…” aku tak tahu harus berkata apa. Posisi kami belum berubah. Krista masih berada di atas tubuhku, memojokkan diriku hingga punggungku menabrak kaca mobil. Pahaku berada di antara kedua paha Krista.
“Aku tahu. Aku wanita murahan. Kau pasti akan lebih membenciku.” Krista menarik wajahnya.
Aku mengelus pipi Krista. Menyampirkan sedikit untaian rambut yang menutupi wajahnya. Menangkup wajahnya dengan kedua tanganku. Mendekatkan wajahku dengan wajahnya. Mengecup lembut bibirnya. Tidak ada lumatan. Tidak ada pagutan. Hanya mendekatkan bibirku dengan bibirnya.
Aku kembali menjauhkan wajahku dengan wajahnya. Kembali menatap kedua matanya yang sayu itu.
“Lebih baik sekarang kamu pulang.”
Ketika aku hendak merubah posisiku. Tiba-tiba ada yang menggedor kaca jendela mobilku dengan keras. Aku menoleh. Chris???
****
Mataku terbelalak. Chris?! Jangan-jangan…
Chris kembali menggedor kaca mobilku dengan keras. Menggetarkan seluruh isi mobil, dia marah besar.
Aku mendorong tubuh Krista agar pergi dari atas tubuhku. Aku hendak membuka pintu mobil ketika lengan Krista menggenggam erat lengaku. Wajahnya mengatakan ‘jangan membuka pintu itu.’
Aku menggeleng. “Aku tidak bisa. Aku harus menjelaskan semuanya. Ini semua hanya salah paham.”
Ketika aku membuka pintu mobil. Seketika itu juga Chris mencengkram erat kerah kemejaku dan menarikku dengan paksa keluar dari mobil.
“Chris. Aku bisa jelaskan semuanya…”
Bukkk… aku merasa tulang rahangku sedikit bergeser. Chris memukul wajahku. Dapat kurasakan darah mengucur dari sela-sela bibirku.
“Chris. Dengarkan aku dulu…”
“Diam! Dasar bajingan!” Bukkk kembali Chris menghantamkan kepalan tangannya ke wajahku. “Aku gak tahu ternyata kamu sebajingan ini. Tega-teganya kamu dan dia…” jari telunjuk Chris mengarah kepada Krista yang duduk ketakutan di dalam mobil. “Tega-teganya kalian selingkuh di belakang aku!”
“Chris!!!” aku kembali memukul wajah Chris. Membuatnya terhuyung dan mundur beberapa langkah. “Dengarkan aku dulu.”
Akhirnya Chris mampu diam. Dia tidak kembali mendekat untuk menghajarku.
“Harusnya kamu introspeksi dulu. Apa yang kamu udah lakukan terhadap Krista.” Aku mengelap bibirku dengan punggung tanganku. “Kamu menyakitinya.”
“Tapi itu nggak bisa jadi alasan kalian untuk berselingkuh. Aku lihat. Aku lihat dengan jelas dengan kedua mataku sendiri kalau kalian berciuman. Aku nggak buta Dika! Aku nggak buta!!!.”
Kini aku yang terdiam. Mau bagaimana pun juga disini… aku pihak yang bersalah… “Aku tahu aku salah. Aku memang bajingan. Aku memang brengsek. Kalau emang menghajarku dapat membuatmu puas. Silahkan saja.” Aku merentangkan kedua lengaku. Menyambut pukulan tangan Chris yang pasti akan merusak sekujur tubuhku. “Aku nggak mau merusak persahabatan kita.”
Chris kembali melayangkan tinjunya pada wajahku. Kini aku tidak berusaha membalas. Tidak juga menghindar. Biarlah… mungkin ini balasan karena aku mempunyai niat jahat pada seorang wanita yang sama sekali tidak bersalah. Wanita yang kini sedang duduk ketakutan di dalam mobilku.
Aku jatuh tersungkur. Tubuhku tak mampu ku gerakkan. Aku merasa sekujur tubuhku mati rasa. Dalam kesadaranku yang menipis aku merasakan bunyi berderak dari dalam tubuhku. Ada yang patah. Terakhir kali yang kulihat sebelum aku pingsan adalah. Wajah Krista yang menangis ketakutan dan Chris yang menyeretnya keluar dari mobilku. Lalu semua menjadi hitam.

2 comments:

  1. arghh!!!! kuranggggggggg...... aihhh... kapan lagi sist diposting lanjutannya?? hauauahuahau..............

    ReplyDelete
  2. tunggu saja. setelah yang satu ini :kedip mata:

    ReplyDelete