Monday, 25 March 2013

Revenge (Long Version) Part 9



Aku terbangun dengan pusing yang teramat sangat. Hal pertama yang kulihat adalah atap berwarna putih. Dimana aku? Aku berusaha untuk duduk, namun kemudian rasa sakit dan nyeri menjalar di sekujur tubuhku. Kulihat banyak perban yang melilit tubuhku. Pasti akan meninggalkan bekas.
Ketika aku berusaha menggapai gelas yang berada di meja untuk mengurangi kehausanku. Tiba-tiba pintu terbuka, dan seorang wanita masuk. Amel?
“Dika? Kamu udah sadar?” Amel mendekati ranjangku dan menatapku cemas.
Aku mencoba mengeluarkan suara namun hanya serakan yang keluar dari mulutku.
“Ha…uss.” Ucapku susah payah seraya menggapai-gapai gelas
Amel langsung mengambil gelas tersebut beserta sedotannya dan langsung membantuku duduk untuk minum.
Aku kembali tidur dan memijit keningku. Entah mengapa minum saja sudah membuatku pusing.
“Kau tahu? Aku sangat bahagia kamu bisa sadar.”
Aku mengeryit. “Sudah berapa lama?”
Amel menatapku dengan sedih. “Kamu pingsan selama 3 hari. Itu lama sekali.” Ia menarik kursi di sebelahku. “Sebenarnya banyak sekali yang aku ingin tanyakan kepadamu. Tapi lebih baik kau istirahat saja dulu.”
Aku mengernyit ketika merasakan nyeri di sekujur tubuhku. Terutama kepalaku yang masih pusing. Aku hanya bisa memejamkan mata untuk menetralisir kedutan di kepalaku.
Kejadian itu… aku masih bisa mengingatnya dengan jelas. Wajah Chris yang marah. Wajah Krista yang ketakutan. Dan aku yang bercucuran darah. Aku masih mampu mengingatnya.
Amel kembali masuk bersama seorang dokter di belakangnya. Dokter tersebut memeriksa kondisiku. Menjelaskan kalau tulang rusukku patah, itu mengakibatkan aku harus menahan sakit ketika bergerak.
Aku kembali memijit pelipisku. Seharusnya malam itu aku makan malam bersama mama. Mama?!
“Mel, Mamaku…”
Amel tersenyum lembut. “Tenang saja. Aku sudah bilang pada pengasuh mamamu yang sebenarnya. Tapi dia mengatakan kalau dia bilang yang sebenarnya pada mamamu, ia takut kalau kondisinya langsung menurun, jadi aku menyuruhnya mengatakan kalau kau ada dinas di luar kota dan perginya mendadak.”
Aku langsung bernafas lega. Setidaknya aku tidak lagi mengkhawatirkan kondisi mamaku.
“Sebenarnya apa yang terjadi, Dika? Jam dua belas malam aku di telpon oleh pihakrumah sakit yang mengatakan kalau kau tergeletak dengan badan penuh darah di samping mobilmu.”
Aku mendesah. Mungkin aku memang harus berkata yang sebenarnya pada Amel. Lagipula aku memang butuh teman bicara.
“Aku bertengkar hebat dengan Chris. Kami... saling memukul dan… aku jatuh… lalu pingsan.” Aku menatap wajah Amel. Dia sepertinya menunggu aku melanjutkan.
“Sudah? Sesingkat itu?”
Aku mengangguk.
Ia mendesah. “Aku tidak tahu apa yang terjadi pada kalian. Kalian berteman. Tidak. Bersahabat. Dan kalian bertengkar? Saling memukul?”
“Ini… masalah yang rumit.” Aku tidak bisa mengatakan kalau kami bertengkar karena Chris memergoki aku dan Krista – pacarnya sedang berciuman di dalam mobilku, di depan apartement Krista.
“Dan kamu tidak ingin membicarakannya?”
“Aku… tidak bisa.”
Amel menarik kursi terdekat lalu duduk di sampingku. “Baiklah. Aku menerima kalau kamu tidak ingin bercerita. Itu hakmu. Tapi apa yang harus ku jelaskan dengan kondisimi seperti ini? Kamu babak belur Dika. Rusukmu patah.”
Aku meringis. Dia ada benarnya.
“Kau tidak mengatakan ini kepada siapapun kan?”
“Kamu pikir?”
Oh aku kembali bernafas lega. Ia tidak memberitahu ini pada orang-orang kantor.
“Apa yang harus ku katakan pada orang kantor?” ia kembali bertanya
“Bilang saja aku ada urusan keluarga. Mendadak. Jatuh dari tangga dan beginilah jadinya.”
Amel menatapku dengan mata melotot. “Terserah kau saja.” Ia kemudian bangkit dari kursi lalu mengambil tas kerjanya. “Aku harus ke kantor. Jam makan siang sudah hamper selesai. Kalau ada apa-apa hubungi aku. Nanti sore aku akan kembali lagi.”
Aku memberikan senyum terbaikku. “Terima kasih, Mel. Kamu yang terbaik.”
Ia mendengus. Lalu meninggalkan aku sendirian.
***
Aku bosan.
Tidak ada yang bisa kulakukan ketika rusukmu patah. Bahkan ketika kau membalikkan badan atau berjalan ke kamar mandi pun rasanya sakit sekali.
Dengan iseng aku mmbuka laci meja yang berada di samping ranjangku. Aku sedikit terkejut ketika menemukan ponselku masih dalam keadaan bagus berada di antara jam tangan dan dompetku. Aku mengambilnya. Menekan tombol untuk mengaktifkannya. Menunggunya sejenak. Lalu seketika itu juga rentetan pesan singkat masuk ke dalam ponselku secara berturut-turut. Aku melihat semuanya. Dan semua sms itu berasal dari orang yang sama. Krista.
***

2 comments:

  1. mbak . kapan nih mau dipost lanjutannya ? :))))

    ReplyDelete
  2. aku lagi sibuk akhir-akhir ini. dan masih belum nemu ide lagi ... ada saran? :)

    ReplyDelete