Wednesday, 15 May 2013

Revenge (Long Version) Part 10





Dika, gimana kabar kamu?
Dika jawab sms aku kalau kamu ada waktu.
Dika. Kamu kemana? Aku tanya orang kantor nggak ada yang tahu kamu kemana. Kamu nggak apa-apa kan?
Dika tolong! Jawab sms aku.
Itu adalah sedikit dari puluhan sms yang dikirimkan oleh Krista kepadaku. Aku mengernyit. Setelah aku pingsan bersimbah darah di depan komplek apartementnya, dia masih bertanya bagaimana keadaanku? Aku mendesah. Aku benar-benar tidak mengerti bagaimana wanita ini.
Aku kembali memainkan jari-jariku diatas ponsel. Mencari pesan atau panggilan tak terjawab dari Chris. Namun ternyata itu sia-sia. Aku harus menaruh kembali ponselku dengan perasaan sedih. Bagaimana tidak. Kini aku telah kehilangan sahabatku. Kehilangan sahabat karena hal yang konyol. Wanita. Persahabatan yang kami bangun semenjak kami kuliah dulu harus runtuh hanya karena makhluk wanita bernama Krista.
                                                                  ****

Sore harinya Amel datang menjengukku setelah pulang dari kantor. Di tangannya ada sebungkus bubur ayam yang kupesan sebelum ia kesini.
“Bagaimana kabarmu?” tanyanya sembari membuka bungkusan plastic
“Sudah sedikit mendingan. Sudah tidak pusing lagi.”
Amel memberikan bubur ayam yang masih hangat itu kepadaku. Aku menatapnya dengan kelaparan. Makanan di rumah sakit yang terasa hambar di mulutku membuatku ingin memuntahkannya kembali.
“Tadi Krista menanyakan kabarmu.” Ujar Amel seraya melepaskan jaketnya dan menyampirkannya di punggung kursi
Seketika itu juga aku langsung terdiam. Entah mengapa mendengar namanya saja membuat otakku mati dalam sekejap.
“Akhir-akhir ini dia selalu terlihat murung. Gossipnya dia sudah putus dengan Chris.”
Deg… putus?
“Putus? Kenapa?” jangan bilang karena kejadian waktu itu?
Amel mengangkat bahu. “Aku tidak tahu. Ada yang bilang karena Krista berselingkuh, Ada yang bilang Chris yang berselingkuh, Ada yang bilang juga karena mereka tidak cocok dari awal.”
Aku menatap makananku dengan kosong. Entah mengapa selera makanku langsung hilang.
“Aku mau keluar dari rumah sakit.” Ucapku datar membuat Amel mengerutkan dahinya.
“Tapi kamu masih belum sehat. Kamu masih rapuh, Dika.”
Aku menggeleng. “Aku sudah menghilang terlalu lama. Bos bisa memecatku kalau aku tidak masuk tanpa memberi kabar.” Aku tersenyum. “Lagi pula aku sudah tidak apa-apa.”
Amel sempat menatapku lama. Seperti mencari sesuatu. Lalu ia menghela nafas. “Baiklah, kalau memang itu yang kamu inginkan. Besok kamu pulang. Akan ku bantu mengurus administrasinya.”
“Terima kasih, Mel.”
****
Amel membantuku keluar dari rumah sakit. Dengan masih terbalut perban di sekujur tubuhku. Keputusanku keluar dari rumah sakit memang tergolong nekat, sampai dokter pun tadinya tidak mengizinkan aku untuk keluar dari rumah sakit. Rusukku masih rapuh, begitu katanya. Memang benar. Aku masih suka sakit ketika harus menggerakkan badanku, namun kutahan.
Mama menanyakan keadaanku dengan lenganku penuh perban. Aku hanya tersenyum dan mengatakan kalau ada sedikit kecelakaan ketika bekerja dan untungnya mama percaya.
“Aku tinggal ya, Dik. Istirahat. Jangan banyak gerak. Inget kata dokter.” Ujar Amel mengingatkan. Aku hanya mengangguk. Tak lupa aku mengucapkan terima kasih berulang kali kepadanya.
“Besok aku masuk kerja, Mel.”
Amel langsung mengernyitkan dahinya. “Kamu gila? Kamu masih sakit begini mau kerja? Kamu baru keluar dari rumah sakit, Dika.”
Aku meringis. “Aku sudah terlalu lama meninggalkan kerjaan di kantor. Nanti si bos marah-marah lagi.”
Amel mendengus. “Terserah kamu sajalah. Aku pusing.”  Amel lalu mengambil tasnya dan pamit pergi.
Aku merebahkan tubuhku di tempat tidur. Memandangi atap-atap kamarku yang berwarna putih. Entah mengapa hidupku berubah menjadi rumit dalam sekejap. Aku kehilangan sahabatku, sahabatku mengira aku selingkuh dengan kekasihnya, tubuhku hancur. Entah kesialan apa lagi yang harus aku dapatkan.
Aku memejamkan mataku. Mencoba kembali tidur. Sepertinya obat dari dokter sudah bereaksi. Ketika aku hampir larut dalam mimpi, ponselku berbunyi, menandakan ada panggilan masuk. Kulihat siapa yang menelpon. Krista. Aku langsung menekan tombol reject dan kembali memejamkan mata. Namun sepertinya Krista tak mau menyerah, ia kembali menelpon, dan kembali lagi aku mereject panggilan itu, namun kali ini aku langsung mematikan ponselku agar tidak terganggu lagi lalu kembali tidur.
                                                                  ***
Hari ini adalah hari pertama aku masuk kerja setelah keluar dari rumah sakit. Masih sakit rusukku ketika aku memakai kemeja dan memasukkannya ke dalam celana. Lenganku juga masih belum bisa di gerakkan dengan bebas, masih terasa nyeri. Namun luka di wajahku sudah sembuh dan tidak berbekas, itu patut di syukuri.
Aku pamit dengan mama sebelum berangkat ke kantor. Mengecup kedua pipinya dengan sayang lalu berangkat ke kantor dengan mobil kesayanganku. Sesampainya di kantor. Teman-teman kantor langsung menanyai keadaanku.
“Dika, kamu kemana saja? Kata Amel kamu jatuh dari tangga, kamu baik-baik saja kan?” tanya Lisa salah satu teman satu divisiku.
Aku mengangguk. “Baik. Sudah sedikit mendingan, buktinya sudha bisa masuk kantor.”
“Hei, Dika.” Egi datang menyapaku dan langsung mendorong bahuku. Aku meringis kesakitan. “Ups, sory. Sesakit itukah?”
Aku masih meringis. “Ya, sesakit itu.”
“Mengapa kamu nggak bilang ke kita kalau kamu masuk rumah sakit. Kami kan bisa menjengukmu.” Protes Lisa sambil cemberut.
“Maaf. Hanya tidak ingin merepotkan kalian.”
“Oke terserah kamu sajalah. Selamat kembali lagi, kawan.” Ujar Egi sebelum kembali ke meja kerjanya, diikuti oleh Lisa.
Aku sedang menyalakan komputerku ketika kudengar suara hak sepatu mendekat ke meja kerjaku.
“Dika?” Suara Krista yang terkejut namun senang terdengar oleh telinga ku. Aku mendongakan wajahku. Krista menatapku dengan senyumnya. “Kamu sudah kembali?”
“Iya.” Jawabku ketus. Aku mulai memfokuskan diri pada pekerjaan.
“Aku khawatir sekali sama kamu. Kamu baik-baik saja?”
Aku menatapnya dengan kesal. “Kamu tanya baik-baik saja? Aku tidak sadarkan diri selama 3 hari. Rusukku retak, tulang bahuku juga retak dan kau bilang baik-baik saja?” desisku kesal. Aku tidak ingin yang lain mendengar ucapanku.
Krista tampak shock dengan ucapanku. Ia membeku di tempat.
“Aku… aku… minta maaf.”
“Andaikan saja permintaan maafmu mampu menyembuhkan semua luka di tubuhku, maka dengan senang hati kuterima.”
Krista tampak terkejut. “Aku sungguh menyesal, Dika. Bukan hanya dirimu yang terluka disini. Aku juga terluka.” Teriak Krista penuh amarah, membuat semua mata di ruangan itu berpaling dan menatap kami.
“Aku juga terluka.” Ujar Krista dengan suara parau, lalu ia meninggalkan ruangan itu dengan isak tangis yang berusaha ia tahan.
Aku yang berada di ruangan itu hanya mampu terdiam. Semua mata itu masih memandangiku. Aku dibuat salah tingkah.
“Sepertinya Krista lagi PMS. Mungkin aku harus melihatnya.” Aku segera bangit dari kursiku, lalu setengah berlari mengerjar Krista.
                                                                  ****
Aku berlari mengejar Krista. Wanita ini mengapa selalu membuatku frustasi?
“Krista! Tunggu.”
Krista tetap berlari. Dia tidak bergeming ketika mendengar suaraku. Aku berhenti berlari, tubuhku belum pulih benar. Rasa sakit dan nyeri menyebar di seluruh tubuhku, membuatku membeku di tempat dan meringis kesakitan. Kulihat ruangan di sekitarku. Kosong. Tidak ada satu orang pun. Ku senderkan tubuhku pada tembok terdekat. Ku meringkuk seperti orang kesakitan disana.
“Dika…” Dapat kudengar suara Krista yang khawatir akan diriku. Aku membuka mata. Krista sedang berlutut di hadapanku. Ia mengamatiku dengan pandangan khawatir.
“Kamu… ngapain disini?” aku kembali meringis kesakitan. Rusukku berdenyut kencang.
“Kamu sakit. Aku panggil orang lain ya?” Krista hendak berdiri. Namun kuhentikan dengan tanganku.
“Tidak usah.” Aku tidak mau di kasihani orang lain. Aku masih bisa mengatasi rasa sakit ini, tidak perlu bantuan orang lain. “Kamu… pergilah.”
Krista menggeleng. “Kamu begini karena mengejar aku kan?”
Aku mendengus. “Kamu membuat teman-teman di ruangan gempar. Mereka menatapku dengan tatapan aneh. Semua karena kamu.”
“Dimana yang sakit?”
Aku menunjuk tulang rusukku.
Sial! Kemeja kerjaku sudah penuh keringat seperti ini.
“Aku harus panggil orang lain. Kamu berkeringat seperti ini. Tunggu sebentar.” Krista langsung berlari meninggalkan aku. Aku hendak menghentikannya namun terlambat, dia sudah jauh.
Tak berapa lama kemudian Krista kembali bersama dua orang satpam. Dengan gelisah ia menyuruh satpam tersebut untuk membawaku masuk kedalam taksi. Kedua satpam itu membantuku berdiri, mereka menyampirkan kedua lenganku di salah satu bahu mereka lalu membawaku dengan perlahan.
“Kita ke rumah sakit pak.” Seru Krista saat kami sudah masuk kedalam taksi.
“Jangan… ke rumah sakit.” Desisku parau. Aku tidak ingin pergi ke rumah sakit. Tidak lagi.
“Tapi kamu butuh perawatan, Dika.”
Aku tak sanggup lagi berbicara. Rasa sakit ini begitu membuatku menderita. Aku pasrah ketika Krista membawaku ke rumah sakit yang sama dengan rumah sakit dimana kemarin aku di rawat.
Sesampainya disana aku langsung mendapat perawatan. Aku mengerang kesakitan menahan rasa sakit itu. Wajahku sudah penuh keringat yang bercucuran. Aku tidak sanggup lagi. Lalu semua menjadi gelap.
Ketika aku bangun rasa sakit itu sudah menghilang. Aku tidak merasakannya lagi. Dokter masuk ke dalam ruanganku. Dokter yang sama ketika aku kemarin masuk. Dokter tersebut menatapku lama. Dia tidak perlu mengatakan apapun, karena aku sudah mengerti.
“Bukankah sudah ku bilang? Kamu belum siap untuk pulang.” Ujar dokter itu lalu mendekati ranjangku. “Bagaimana keadanmu?”
“Sudah lebih baik. Rusukku tidak sakit lagi.”
“Itu karena aku memberimu obat penghilang rasa sakit. Kalau efek dari obat itu hilang, rasa sakit itu akan datang lagi. Mau tak mau malam ini kamu harus tinggal di rumah sakit.”
Aku menghela nafas. Mau bagaimana lagi?
“Ngomong-ngomong, pacarmu dari tadi menunggu di luar akan kusuruh dia menemuimu.” Dokter itu lalu pergi meninggalkan kamar. Aku mengernyit bingung. Pacarku? Pacar yang mana?
 Tiba-tiba pintu kamar terbuka. Menampilkan sosok Krista masuk dengan wajah penuh kekhawatiran.
“Dika, kamu sudah baikkan?” tanyanya hati-hati.
Aku memalingkan wajah. Tidak ingin bertemu pandang denganna. Ini semua karena dia. Entah mengapa aku selalu menemui kesialan ketika aku berdekatan dengannya.
“Aku minta maaf. Semua salahku. Padahal kamu baru keluar dari rumah sakit. Tapi gara-gara aku… penyakit kamu kambuh lagi.”
Aku mendengus. Apakah ia baru menyadarinya?
“Lebih baik kamu pulang. Ini sudah malam. Malam ini aku harus menginap di rumah sakit, terima kasih karena sudah mau mengantarku ke rumah sakit.”
“Tapi aku ingin menemanimu disini.”
“Pulanglah Krista!” seruku marah. Krista nampak terkejut karena aku sudah menggertaknya. Ia sempat membeku di tempat. Menggigit bibir bawahnya dan memainkan jari-jarinya yang bertaut.
“Baiklah kalau begitu. Aku pulang. Kalau kau butuh…”
“Aku tidak butuh. Terima kasih.” Potongku kasar. Aku ingin ia cepat-cepat pergi dari hadapanku.
Ia lalu melangkahkan kakinya pergi meninggalkan kamar. Aku langsung memijit pelipisku yang tiba-tiba merasa pusing. Aku baru ingat kalau dari tadi aku belum makan.
Suster datang ke kamarku membawa nampan berisi makanan. Untuk orang sakit, aku makan cukup banyak.

No comments:

Post a Comment