Tuesday, 21 May 2013

Revenge (Long Version) Part 11




Pagi harinya aku di perbolehkan pulang oleh dokter. Aku harus menerima ketika dokter memberiku obat tambahan. Aku mendengus, mau bagaimana lagi? Aku tidak ingin kejadian kemarin terulang lagi. Aku ingin cepat sembuh. Kembali beraktifitas dengan normal.
Aku pulang kerumah untuk membersihkan diri. Ketika aku memasuki ruang tamu, kutemukan mama sedang memandang keluar jendela dengan suster sedang menyuapinya. Aku memutuskan untuk mengahampiri mama sebentar.
Walaupun mama sudah mampu di ajak bicara. Namun ada keadaan dimana mama kembali kumat. Mama hanya mampu diam, dengan tatapan mata yang kosong memandang keluar jendela. Ingatan mama juga sudah mulai kabur. Daya pikirnya pun begitu.
Aku duduk di hadapan mama. Mengambil jari-jari mama yang sudah mulai keriput, membelainya dengan lembut lalu mengecupnya.
“Mama lagi makan? makan yang banyak ya ma, biar mama cepet sembuh. Kalau udah sembuh nanti kita pergi ke tempatnya Yuda.” Ucapku pelan
Mama meresponku dengan cepat. Mama merasa sensitive ketika mendengar nama Yuda.
“Yuda? Nanti kita ke tempatnya Yuda?”
Aku mengangguk lembut. “Kalau mama udah sehat, nanti kita kesana. Makanya mama makan yang banyak biar cepet sembuh.”
Mama mengangguk dengan semangat. Senyumnya mengembang. Mama begitu gembira ketika aku mengatakan akan pergi menengok Yuda. Ada sedikit rasa iri karena begitu besarnya rasa cinta mama kepada Yuda dibanding rasa cinta mama kepadaku. Namun kini hanya mama yang aku punya, dengan kondisi mama yang seperti ini, aku tak mampu berbuat macam-macam.
Aku kembali menegakan badanku. Pamit dengan mama dan suster lalu pergi ke lantai atas. Ke kamarku. Membersihkan diri sebelum berangkat lagi ke kantor.
****
Sesampainya aku di kantor. Aku sudah menyiapkan diri kalau saja teman-teman di kantor menanyakan kemarin aku tidak kembali lagi ke ruangan setelah mengejar Krista. Dengan menghembuskan nafas aku berjalan memasuki ruangan.
Aku melihat ke sekeliling ruangan kantor. Hening. Banyak meja yang masih kosong belum berpenghuni. Mereka belum datang.
Aku hendak duduk di kursiku ketika seseorang menepuk pundakku dari belakang.
“Hey, udah masuk lagi, Dik?” tanya Egi dengan segelas kopi di tangannya.
Aku hanya mengangguk pelan. Ini dia.
“Krista bilang kemarin kamu harus check up ke dokter ya? Kenapa gak bilang? Kita khawatir banget, kamu nggak balik lagi abis ngejar Krista, kami kira kamu kenapa-napa.”
Aku menatapnya bingung. “Krista yang bilang gitu?”
Egi mengangguk mantap. “Syukur deh kalau kamu baik-baik aja, aku kira bakalan absen lagi.” Egi menyeruput kopinya sebentar lalu berjalan menuju meja kerjanya.
Aku merenung. Pantas saja orang-orang kantor tidak bertanya kepadaku, mungkin karena Krista sudah berbicara kepada mereka.
                                                                  ****
Aku sedang mengetik, mengerjakan beberapa laporan ketika kudengar suara orang yang sedang marah-marah.
“Krista! Kenapa laporan ini bisa salah? Kan aku sudah bilang sebelum di kasih ke aku periksa dulu dong. Aku dimarahi oleh Pak Sabdo tadi gara-gara laporan kamu masih berantakan. Udah berapa kali sih bikin laporan kayak gini? Kok masih salah?” bentak seorang karyawan wanita yang namanya aku tidak ingat.
Semua karyawan yang sedang sibuk langsung menorehkan kepalanya ke arah Krista. Krista yang sedang di marahi hanya bisa menunduk sedih. Ia tidak berani menatap wajah karyawan wanita itu, ia hanya memainkan jari-jarinya.
“Sekarang kamu perbaiki ini. Semuanya! Besok harus selesai. Aku gak mau tahu gimana caranya besok pagi harus ada di meja aku.” Ucapan wanita itu di akhiri dengan melemparkan kertas yang akhirnya berantakan di sekitar meja Krista. Setelah suasana agak sepi, para karyawan yang sedari tadi hanya menonton kembali sibuk dengan pekerjaannya, tak ada yang mau membantu Krista memunguti kertas yang berantakan itu. Begitu pun aku. Jujur saja ada rasa senang ketika melihat ia dimarahi seperti itu. Rasa dendam di hatiku sedikit terbalaskan dengan melihat wajahnya yang sedih itu.
                                                          *******
Aku sedang membereskan mejaku, bersiap untuk pulang. Sudah pukul 8 malam dan aku lelah. Aku mendongakan kepalaku dan mendapati Krista masih berada di mejanya, mengerjakan laporan untuk esok. Dia tidak menyadari kehadiranku yang masih disini. Matanya terlihat fokus pada kerjaannya. Sesekali ia mengusap matanya yang kelelahan. Mataku tak sengaja berpandangan dengan matanya ketika ia mendongakan wajahnya. Matanya menatap mataku lama. Aku yang pertama kali memutus kontak mata itu. Ku langkahkan kaki keluar dari ruangan dan berusaha tak peduli dengannya, tapi entah mengapa ada sesuatu di dada ini yang terasa sesak, apakah aku sakit lagi? Bukan. Ini bukan rasa sakit. Rasanya seperti aku tidak bisa bernafas dan butuh udara segera. Mungkin aku hanya kelelahan. Ya, aku hanya kelelahan.
*****
 
Hari ini mama pergi ke luar kota, ke tempat adiknya mama untuk beberapa minggu. Aku di rumah sendiri, hanya ada satu pembantu itupun pulang pergi. Ketika malam hari aku benar-benar sendiri. Mungkin karena ini pola makanku berantakan dan aku kembali sakit. Entah mengapa aku jadi sering sakit dan daya tahan tubuhku mudah jatuh. Badanku demam. Aku menelpon temanku dan mengatakan aku sakit sehingga tidak bisa masuk kantor.
Aku hanya bisa tidur di kamar, terbaring lemah di atas kasur. Pembantuku sudah ku suruh buatkan bubur, untukku makan. Setelah itu dia pergi ke pasar.  Ketika aku sedang berusaha untuk tidur, seseorang membunyikan bel rumahku. Tadinya aku hendak mengabaikannya dan kembali tidur, namun ternyata orang itu tidak mengalah juga, dia tetap membunyikan bel yang mengerikan itu sehingga benar-benar mengangguku.
Dengan tenaga seadanya kubukakan pintu itu, hendak mengusir tamu tak di undang yang tak tahu malu karena sedari tadi tidak kubukakan pintu. Ketika pintu sudah terbuka lebar dan aku handak memarahi orang itu. Aku terperangah kaget. Krista? Untuk apa dia datang kemari?
“Aku datang untuk menjengukmu.” Ujar Krista dengan senyum ramahnya. “Teman-teman bilang kamu sakit jadi aku kemari untuk memberimu ini.” Dia menyodorkan keranjang buah yang berada di tangannya.
Aku hanya mematung di depan pintu. Kepalaku kembali pusing, sepertinya efek dari obatnya sudah habis, karena kini aku merasa kepalaku berputar cukup hebat, dan tiba-tiba semuanya menjadi gelap.
*****
Krista POV

Aku terkejut ketika Dika roboh di depanku. Aku langsung menyangga tubuhnya agar tidak terjatuh, lalu meminta bantuan dari orang rumah dengan berteriak. Namun tak ada yang datang, sepertinya rumahnya kosong dan Dika sendirian. Kasihan sekali, ketika sedang sakit seperti ini ia harus tinggal sendirian di rumah.
Dengan tenagaku aku berusaha membawanya masuk ke dalam rumah. Ya Tuhan, badannya panas sekali. Ku bawa dia ke lantai atas. Kucari-cari kamarnya dan akhirnya ketemu juga. Ku baringkan tubuhnya di atas kasur. Wajahnya berkeringat. Aku hendak mengompres dahinya ketika lengannya menghentikanku.
“Jangan… jangan pergi…” gumamnya tanpa sadar. Matanya yang sayu melihatku dengan iba. Aku jadi tak tega. Aku kembali ke samping tempat tidurnya. Duduk di pinggir tempat tidur. Aku memandanginya dengan takut-takut. Takut dia akan menjadi kasar seperti biasanya dan menyakitiku. Namun ternyata dia membelai wajahku dan mengusapnya dengan lembut. Aku sedikit terkejut dengan perubahan sikapnya. Ia tersenyum kepadaku. Senyumnya begitu lembuh dan juga lemah. Dia meenyebut namaku dengan suaranya yang lemah.
“Krista… cantik… kamu cantik.” Gumamnya seraya mengusap pipiku dengan ibu jarinya dengan lembut. Aku yang masih terkejut hanya bisa diam. Dia bilang aku cantik?
“Jangan pergi…”
Aku menggelengkan kepalaku. “Aku tidak akan pergi.” Ucapku sambil mengusap kepalanya. Ia terlihat senang ketika aku mengusap kepalanya. Kerena ia tersenyum sambil memejamkan matanya lalu tak berapa lama kemudian ku dengar suara tarikan nafas yang teratur, sepertinya ia tertidur.
Aku masih mengusap kepalanya lalu kupandangi wajahnya yang indah itu. Begitu damai ketika tertidur. Wajahnya tak seperti orang jahat tapi entah mengapa perlakuannya kepadaku begitu jahat dan kasar. Ia selalu berkata kasar padaku, padahal seingatku aku tidka pernah menyakitinya.
Yuda. Mungkin karena dia. Mungkin karena Dika menyangka akulah penyebab kematian Yuda. Tapi sungguh aku tidak bermaksud menyakiti Yuda. Aku hanya… aku hanya menganggap Yuda sebagai temanku tidak lebih dan aku sama sekali tidka tahu kalau Yuda menyukaiku. Aku juga sempat terpukul ketika mengetahui kabar Yuda mengalami kecelakaan. Aku juga menyayanginya… sebagai teman.
Kini Dika menganggapku sebagai musuhnya. Sebagai seorang pembunuh. Sudah berkali-kali aku mengatakan kalau itu bukan kesalahanku tapi dia tidak ingin mengerti, kini biarlah dia lakukan semaunya, akupun sudah lelah.
Kupandangi lagi wajahnya. Wajahnya yang tampan tanpa kumis atau janggut yang menghiasi wajahnya. Dia begitu tampan ketika tersenyum tapi dia tidak pernah tersenyum padaku. Tidak sekalipun.

No comments:

Post a Comment