Friday, 17 May 2013

Wrong Or Right? Part 7




“Aduh Alexa kemana sih? Di telfon nggak di angkat. Sekarang hapenya mati pula!” sungut Jenny seraya kakinya tak berhenti untuk mondar mandir.
“Udah bisa belum?” Tanya seorang wanita tampak khawatir. Modelnya belum datang juga hingga sekarang.
Jenny menggeleng panik. “Belum, Mbak. Aduh. Kami mohon maaf ya. Bisa tidak pemotretannya di lanjutkan besok?” Jenny menatap cemas kea rah wanita itu
Wanita itu hanya menggaruk-garuk kepalanya. “Bagaimana ya… Kami…”
“Kami janji akan membayar kerugiannya.” Ujar Jenny cepat.
Wanita itu menghela nafas. “Baiklah. Besok pagi jam 10 ya.”
Jenny mengangguk hormat. “Terima kasih. Terima kasih banyak.”
“Pemotretan di lanjutkan besok. Sekarang kalian bisa pulang.” Seru wanita itu dengan keras. Para karyawan langsung mengumpat dan mengomel seraya membereskan peralatan.
Jenny sekali lagi membungkukan kepalanya ketika wanita itu melewati dirinya dan masuk ke ruang make up.
Jenny menghembuskan nafas keras. Lalu memandangi ponselnya. “Seberanya dimana si kamu, Lexa?”

!@#$%^&*(()

Lexa membalikkan badannya dan langsung berhadapan dengan Steve. Steve memandanginya dengan tatapan tajam.
Mereka kini hanya di tutupi oleh selimut besar dan di dalamnya tak ada lagi sehelai benang pun. Sprei kasur sudah berantakan dan tidak berbentuk lagi. Semalam terjadi pertempuran besar di atas tempat tidur.
Lexa membalas menatap Steve tak kalah tajam. “Apa?”
Steve merubah posisinya. Kini ia menghadap Lexa dengan lengan kirinya sebagai bantal. “Kau… Apa yang sebenarnya kau pikirkan?”
“Memangnya apa? Kau yang meminta ini bukan? Aku hanya menurutinya.”
Steve merubah posisi kepalanya. Mencari sebuah penjelasan dari apa yang barusan terjadi. “Kau tidak tertebak sama sekali.”  Tidak ada kelembutan sama sekali dari nada suaranya.
“Karena kau memang tidak pernah mengenalku.” Ucap Lexa seraya menutup matanya. Ia sangat lelah sekali hari ini.
“Kau sadar apa yang kau lakukan barusan?”
Alexa kembali membuka matanya. “Tentu saja.”
Steve masih belum bisa menemukan penjelasan dari apa yang terjadi. Tadi siang, wanita ini menolak mentah-mentah dirinya dan sekarang, malam ini, wanita ini berada di ranjangnya, bersama dirinya, dan mereka baru saja melewati ronde-ronde yang panjang.
“Memangnya apa yang sebenarnya kau harapkan?” Tanya Alexa membuyarkan lamunan Steve. Steve kembali menatap wajahnya
Steve menggeleng frustasi. “Entahlah. Kau… Tadi siang kau menolakku mentah-mentah dan sekarang….”
Alexa memeluk tubuh Steve dan mempererat pelukannya. Meletakkan kepalanya di atas dada Steve yang bidang, membuat Steve sedikit terkejut.
“Aku juga tidak tahu.” Terasa sekali hembusan nafas Alexa di dada Steve. “Aku sudah lelah untuk berlari dan bertengkar dengan diriku sendiri. Menyangkal bahwa diriku tidak membutuhkanmu. Bahwa diriku bisa jauh dari dirimu.” Alexa mengangkat kepalanya dan matanya bertemu dengan mata Steve. “Tapi ternyata aku tidak bisa. Dengan berat hati aku menyatakan kalah pada diriku sendiri.”
Steve mengerutan dahinya. Mencoba mencerna semua perkataan Alexa barusan. “Jadi… Kau…”
Alexa kembali meletakkan kepalanya di dada Steve dan menghirup aroma tubuh Steve. “Aku tidak akan pergi lagi.”
Steve menghembuskan nafas lega. Entah mengapa tapi dia seperti sedang berenang di dalam samudra terdalam dan kembali ke permukaan dengan beribu oksigen siap menyambutnya. Begitu lega.
Steve memeluk tubuh mungil itu dan menicum kepala Alexa, menghirup wangi shampoo yang dia gunakan. Begitu menenangkan.
!@#$%^&*()

Sinar matahari mengintip dari balik gordain dan sinarnya langsung tertuju pada Alexa. Alexa menggeliyat berusaha menghindari sinar yang menganggu tidurnya. Ia berusaha menyembunyikan kepalanya di dalam dada Steve.
Steve yang merasakan ada suatu gerakan terbangun dari tidurnya. Matanya terbuka. Hal yang pertama dilihatnya adalah tubuh Alexa yang sedang memeluknya. Kepalanya ia tenggelamkan di dalam dadanya. Begitu hangat. Di usapnya rambut hitam Alexa dengan sayang lalu di kecupnya rambut itu. Tuhan, ia begitu mencitai wanita ini.
Tubuh yang berada di dekapannya itu kembali bergerak. Sesaat kemudian kepala Alexa terangkat dilihatnya wajah Steve seraya tersenyum.
“Selamat pagi.” Ucap Steve hati-hati.
“Pagi.” Ucap Alexa begitu riang. Senyum itu menular bagi Steve.
“Tidurmu nyenyak?” Steve kembali mendekap tubuh mungil itu agar kembali dekat.
Alexa mengangguk. “Nyenyak sekali. Bagaimana denganmu?”
Steve tersenyum kecil. “Aku bermimpi indah semalam. Itu semua karena dirimu.” Steve kembali mengelus kepala itu dengan sayang.
“Jam berapa sekarang?” Alexa membalikkan tubuhnya dan menatap jam kecil yang berada di atas meja. “Ya tuhan! Kita harus ke kantor sekarang.” Alexa langsung melompat dari tempat tidur dan berlari ke kamar mandi. Steve yang hanya melihat kejadian itu hanya tersenyum kecil.
“Sebaiknya sekarang kau bersiap-siap dan jangan tertawa.” Seru Alexa dari dalam kamar mandi, membuat Steve kembali tersenyum.

!@#$%^&*()

“Ya tuhan! Kemana saja kau kemarin? Setelah pergi secara tiba-tiba, tidak mengangkat telponku sama sekali, dan sekarang kau harus memberikan penjelasan kenapa kau tidak kembali saat jam makan siang selesai? Kau tahu kan kalau kemarin masih ada pemotretan?”
Alexa baru sampai kantor dan langsung menerima ocehan Jenny yang terlihat frustasi.
“Kau harus tahu bagaimana aku mengendalikan semua kekacauan yang kau dan artismu itu buat. Kalian kemana saja kemarin?” desak Jenny seraya melipat tangannya.
“Tiba-tiba saja kemarin aku sakit perut jadi harus pulang, dan Steve… Entahlah aku tidak tahu kemarin dia kemana, kau tanya sendiri padanya.” Alexa sudah menyiapkan kata-kata itu sewaktu ia dalam perjalanan ke kantor. Ia yakin pasti ada yang menanyakan hal itu.
“Kau? Sakit?” Tanya Jenny tidak percaya.
“Ya. Kau tidak percaya? Kau tidak lihat lingkaran hitam di mataku ini? Aku mulas-mulas dari kemarin malam. Sepertinya aku salah makan.”
Jenny menjatuhkan lengannya ke samping. “Kalau kau sakit mengapa kau sekarang masuk ke kantor?”
“Karena aku punya seorang artis yang harus ku tangani.” Jawab Lexa sebal.
“Lalu dimana artismu itu sekarang?” Kepala Jenny menengok kesana kemari mencari sosok Steve.
Alexa mengangkat bahu. Ia lebih memfokuskan diri pada computer di meja kerjanya. Jarinya sudah menari-nari di atas keyboard.
“Akh itu modelmu sudah datang.” Ujar Jenny membuat Alexa mendongakan kepalanya dan menemukan Steve berjalan dengan santai ke arahnya.
“Morning.” Ucap Steve ramah. Senyumnya membuat karyawati di ruangan itu selama beberapa detik menikmati senyumannya.
“Morning Mr. Gabriel.” Ucap Jenny dengan suara di buat tegas. Steve membalasnya dnegan senyum. “Can you tell me where are you last night?” Jenny melipat tangannya di depan dada dan memasang raut wajah aku-yang-berkuasa-disini. Alexa hanya tersenyum melihat tingkah laku temannya.
“Me? In my hotel of course.” Steve menyenderan bahunya di dinding kantor dan memasukkan lengannya ke dalam saku. “What’s wrong?”
“Tahukah kalau kau masih ada pemotretan malam itu?”
“Oh ya, Pemotretan. Aku benar-benar minta maaf, aku benar-benar lupa akan hal itu.” Steve menyentuh pelipisnya dan menggelengkan kepalanya.
Jenny masih menatap Steve dengan matanya yang tajam. “You know? You’re lucky guy.” Jenny melirik ke arah Alexa sebelum akhirnya dia melangkah pergi.
“She’s right! You are lucky guy.” Ucap Alexa acuh tak acuh. Matanya masih memandang computer dengan bosan
Steve tersenyum simpul kepalanya berada dekat sekali dengan wajah Alexa.  “Yeah, im lucky guy. To night? In my place?”
Alexa menaikkan sebelah alisnya. “We will see.”
Setelah itu Steve pergi dari ruangan Alexa meninggalkan Alexa dengan setumpuk pekerjaannya.

No comments:

Post a Comment