Friday, 2 August 2013

Always Love You Part 4




Aku kembali ke apartementku tepat pukul 11 malam. Aku lelah tapi bahagia. Aku mencintai pekerjaanku. Aku sudah menganggap Red, Roy, dan para pelayan yang lain adalah keluarga keduaku. Apalagi Red dan Roy mereka sudah ku anggap seperti ayahku sendiri. Ya, dari kecil aku belum pernah bertemu dengan ayahku. Aku tidak tahu bagaimana rupanya, suaranya, bahkan ciri-cirinya saja aku tidak tahu. Aku pernah menanyakan kepada Mom dimana ayahku berada sewaktu aku kecil, tapi hal itu malah membuat Mom langsung menangis. Smenjak saat itu aku tidak pernah menanyakan lagi dimana ayahku, aku tidak ingin membuat Mom menangis.
Sewaktu aku kecil aku sering mendapat cemoohan dari orang lain. Mereka mengatakan kalau aku anak haram, anak yang lahir di luar nikah, ataupun kata-kata yang menyakitkan lainnya. Oleh sebab itu setelah aku lulus high school, aku melanjutkan kuliah di luar kota. Mencoba memulai hidup baru tanpa ada orang-orang yang menghujatku.
Ketika aku sampai di lorong menuju apartemenku ku lihat seseorang sedang berdiri di depan pintu. Aku memicingkan mataku. Sepertinya aku belum pernah melihat orang itu. Ketika ku dekati orang tersebut membalikkan badannya.
“Andreas?” tanyaku terkejut. Dari mana orang ini tahu apartemenku?
“Hei, Claura. Kau dari mana?”
“Aku habis pulang dari restaurant. Sedang apa kau disini?” tanyaku menyelidik.
“Aku ingin mengajakmu makan malam.”
Mataku semakin menyipit. “Ini sudah pukul 11 malam. Bukan waktunya untuk makan malam lagi.”
“Tapi kau belum makan malam bukan?” tanyanya dengan senyum mempesona.
Dari mana orang ini tahu kalau aku belum makan malam? “Aku sudah makan malam.” Ucapku seraya memasukkan kunci ke dalam lubang kunci lalu memutarnya.
“Tidak. Kau belum.”
Aku memutar tubuhku dengan kesal. “Itu urusanku apakah aku sudah makan malam atau belum. Sekarang bisakah kau pergi dari apartementku Mr. Andreas? Karena aku ingin istirahat.”
Lalu ia tersenyum lagi. “Ini urusanku. Aku ingin memastikan agar kau makan malam.”
Arghhh…. “Aku akan makan. Aku masih punya persediaan makan malam di kulkas.”
“Kalau begitu kau bisa mengajakku makan malam karena aku belum makan.”
Demi saus tar-tar yang berada dalam film spons berwarna kuning itu. Lelaki ini sungguh menyebalkan.
“Itu bukan urusanku, Sir.”
Andreas langsung masuk ke dalam apartemenku yang pintunya terbuka. Aku hanya menatapnya dengan mata melebar.
“Apartmentmu bagus.” Ucapnya menilai apartementku. Aku mendengus tentu saja, aku rajin membersihkannya.
“Jadi kau akan memasak apa?” tanyanya seraya melepas mantelnya lalu menyampirkannya di sofa.
Aku menghampiri kulkasku dan melihat isinya.
“Kau akan memasak apa?”
Aku langsung melompat kaget. Oh tuhan… laki-laki ini baru saja berbicara dekat sekali dengan tengkukku. Aku bersumpah aku bisa merasakan hembusan nafasnya di leherku dan itu membuatku merinding.
“Kau kenapa?” tanyanya bingung
Aku masih memegang dadaku. Mencoba mengendalikan detak jantungku.
“Tidak… tidak apa-apa.” Ucapku menggeleng. Aku lalu mengeluarkan ayam yang sudah di potong dari dalam kulkas dan beberapa sayuran. “Sepertinya aku akan membuat ayam bumbu teriyaki dan sop. Hanya itu yang ada dalam kulkasku.”
“Sepertinya enak.” Ucapnya sambil tersenyum.
Aku mulai mencuci ayam yang berukuran kecil-kecil itu dan tak lupa aku memotong sayuran.
“Sudah berapa lama kau tinggal sendiri?” tanya Adreas yang duduk di meja makan.
“Semenjak aku kuliah disini.”
“Bagaimana dengan orang tuamu?”
Aku terdiam. “Aku tidak suka membicarakan orang tuaku.” Lalu kembali melanjutkan menggoreng ayam teriyaki ku
“Kenapa?”
“Karena aku tidak suka.”
Andreas mengangkat bahu. “Baiklah. Kita ubah topic pembicaraan.” Aku meletakkan masakkanku di atas meja. “Kau punya pacar?”
Aku menatapnya tajam. “Menurutmu?”
“Menurutku kau belum punya pacar.” Ucapnya penuh percaya diri.
“Kau begitu percaya diri Mr. Andreas.”
“Karena aku seorang pengusaha, aku harus terlihat percaya diri.”
Aku membalikkan piringku. Berusaha tidak peduli dengan percakapan kami barusan. “Makanlah. Kau bilang kau lapar.”
Lalu kami makan dengan tenang. Hanya suara sendok dan garpu yang bertemu dan saling bersentuhan. Kami menikmati makanan kami masing-masing.
“Makananmu enak. Sudah lama aku tidak memakan masakan rumah seperti itu.” Ucap Adreas seraya menyeka mulutnya.
“Terima kasih. Aku senang ada yang menyukai masakanku.”
“Bagaimana kalau kau memasak untukku lagi? Tidak sekarang tapi lain kali.”
“Baiklah. Lain kali.” Aku menekankan kata lain kali. Itu berarti tidak besok ataupun tidak lusa. Bisa kapan saja bukan?
“Kalau begitu aku pulang dulu. Terima kasih atas makan malamnya.”
Aku melirik jam yang berada di dinding. Sudah pukul 12 malam. Untung saja besok aku tidak kuliah.
“Kau pulang sendiri?”
“Tidak. Supirku sudah menunggu di bawah. Kenapa? Kau khawatir padaku?” ucapnya dengan nada menggoda.
“Tidak. Hanya saja ini sudah larut malam. Bahaya pulang selarut ini.”
Adreas tersenyum lembut. “Aku tidak apa-apa. Lagi pula aku ini laki-laki, aku bisa menjaga diriku sendiri.”
Aku mengantarnya sampai ke depan pintu. Tiba-tiba saja Andreas mengecup keningku dengan lembut. Membuatku membeku sesaat.
“Kau istirahatlah. Kau pasti lelah sekali telah bekerja seharian.”
Aku menatapnya yang semakin lama semakin hilang dari pandangan. Kemudian aku menyentuh dahiku. Aku masih bisa merasakan hangatnya bibir Andreas disana.
Arghhh…. Aku benar-benar butuh tidur.
####
Aku melihat mobilku sudah terparkir di depan lobby. Aku langsung masuk ke dalam kursi penumpang dan tak lama kemudian Jack melajukan mobilnya.
“Bagaimana malam anda, Sir?” tanya Jack dari spion mobil.
Aku tersenyum. “Aku merasa malamku hari ini indah.” Aku mengingat kejadian tadi.
Tadinya aku tidak sengaja melewati apartement Claura dan tiba-tiba saja aku ingin mampir. Setelah bertanya pada satpam, aku tahu dimana Claura tinggal. Aku sudah menekan bel berkali-kali tapi tidak ada jawaban. Aku sudah pasrah dan hendak meninggalkan apartement itu ketika aku mendengar suara Claura. Ya tuhan, baru beberapa kali kami bertemu tapi aku sudah hafal suaranya. Aku lalu berpura-pura mengajaknya makan malam dan lagi-lagi ia menolak ajakanku. Aku semakin tertarik mengejarnya.
Ketika ia mau memasakkan makan malam untukku aku terkejut. Dia bisa memasak? Dari beberapa wanita yang ku temui dan dekat denganku, sepertinya hanya dia yang bisa memasak dan juga masakannya begitu enak. Sepertinya aku kenal masakan itu.
Dan Claura tidak suka ketika aku bertanya tentang orang tuanya. Sepertinya itu topic yang sensitive baginya. Aku tidak tahu kenapa dan aku tidak ingin tahu lebih jauh. Lagipula aku akan tahu nantinya.
“Sudah sampai, Sir.”
Aku langsung turun dari mobil dan masuk ke dalam rumahku. Rumahku memang megah dan luas tapi selalu sepi. Walaupun dengan banyaknya pelayan tapi entah mengapa aku selalu merasa aku sendiri di rumah ini. Walaupun dulu aku dan Rachel pernah tinggal disini tapi itu tidak lama. Ya, aku pernah menikah sebelumnya. Rachel adalah wanita yang dijodohkan oleh orang tuaku dulu. Karena dia aku harus meninggalkan kekasihku karena Mom mengancam akan menyakitinya kalau aku tidak mau melaksanakan perjodohan itu. Dengan berat hati aku harus meninggalkan kekasihku, belahan jiwaku.
Sampai akhirnya ku kira Mom terkena batunya sendiri. Rachel di vonis tidak akan bisa memiliki anak. Mom tidak akan pernah mendapatkan cucu dari Rachel dan aku. Sampai akhirnya Rachel dan aku berpisah karena Rachel mengatakan kalau ia tidak bisa membahagiakan aku seutuhnya. Tidak tanpa anak. Akhirnya kami berpisah secara baik-baik. Yang ku tahu sekarang Rachel sedang meneruskan study-nya di luar negeri. Setelah kami berpisah. Aku mulai mencari belahan jiwaku lagi. Tapi sayang ia sudah tidak berada disana. Dan aku tidak tahu harus mencari kemana. Semoga saja tuhan mau mempertemukan kami kembali. Karena sampai saat ini aku masih mencintainya. Mencintai belahan jiwaku.

4 comments:

  1. Jangan katakan andres pny hubungan massa. lalu dengan ortu claura.

    ReplyDelete
  2. iya nggak ya? hihihi.... *ketawa nenek sihir*

    ReplyDelete
  3. Jgn2 Andreas itu ppny Claura!
    Mkany dia mrasa dket bgt sma Claura!
    Oh no!x_x
    Jgn blg Claura cinta sma ppny sndri n Andreas cinta sma ankny sndri! Incest ntar! Hiii

    ReplyDelete
    Replies
    1. wow, imajinasi kamu besar sekali hehehe . tunggu aja part selanjutnya. ;)soalnya kalau aku kasih tau ntar nggk seru lagi. nggak ada yg mau baca hehe

      Delete